Ranah

Kemendag Pacu Diversifikasi Pasar Jaga Kinerja Ekspor Nasional

176
×

Kemendag Pacu Diversifikasi Pasar Jaga Kinerja Ekspor Nasional

Sebarkan artikel ini
mendag:-timur-tengah-sumbang-3,49-persen-dari-total-ekspor
Mendag: Timur Tengah Sumbang 3,49 Persen dari Total Ekspor

Solo – Kinerja ekspor Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah dinamika geopolitik global. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nasional pada periode Januari-Februari 2026 mencapai US$ 44,32 miliar, atau tumbuh 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa sektor ekspor tetap mencatatkan tren positif meski menghadapi tantangan berupa kebijakan proteksionisme di berbagai negara serta eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi saat meluncurkan Program Campuspreneur: Pengembangan Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, Kamis (2/4/2026).

Menurut Budi, capaian ini membuktikan bahwa peluang pasar global bagi produk Indonesia masih terbuka lebar. Namun, pemerintah tetap mewaspadai dampak lanjutan dari konflik geopolitik, terutama terkait stabilitas rantai pasok dan permintaan pasar internasional.

Saat ini, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 3,49 persen terhadap total ekspor Indonesia dengan nilai mencapai US$ 9,87 miliar. Budi menekankan pentingnya menjaga pasar tersebut agar tidak tergerus oleh eskalasi konflik yang dipicu oleh serangan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat, terhadap Iran.

Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Perdagangan menyiapkan strategi percepatan diversifikasi pasar ekspor. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada kawasan tertentu di tengah krisis global yang dapat mengubah peta perdagangan secara cepat.

Selain diversifikasi, pemerintah juga mengoptimalkan berbagai perjanjian dagang yang telah dimiliki Indonesia. Upaya ini diharapkan mampu menekan hambatan tarif maupun non-tarif, sekaligus meningkatkan daya saing produk nasional di pasar internasional.

Budi menambahkan bahwa strategi ini menjadi sangat relevan untuk menghadapi disrupsi global. Ia berkaca pada pengalaman pandemi Covid-19 yang sempat mengganggu rantai pasok dunia, namun justru membuka peluang bagi negara lain untuk mengisi kekosongan pasar.

Solo – Nilai ekspor Indonesia tercatat mencapai US$ 44,32 miliar sepanjang periode Januari-Februari 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,19 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, di tengah tantangan geopolitik global.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa sektor ekspor nasional memiliki resiliensi yang kuat meski menghadapi tekanan kebijakan proteksionisme dari berbagai negara serta konflik di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi saat meluncurkan program Campuspreneur: Pengembangan Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, Kamis (2/4/2026).

Menurut Budi, capaian ini membuktikan bahwa peluang pasar global bagi produk Indonesia masih terbuka lebar. Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai dampak lanjutan dari konflik geopolitik terhadap stabilitas rantai pasok dan permintaan pasar internasional.

Saat ini, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 3,49 persen terhadap total ekspor Indonesia dengan nilai mencapai US$ 9,87 miliar. Budi menekankan pentingnya menjaga pasar tersebut agar tidak tergerus oleh eskalasi konflik yang dipicu oleh serangan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat, terhadap Iran.

Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Perdagangan menyiapkan strategi percepatan diversifikasi pasar ekspor. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada kawasan tertentu di tengah krisis global yang dapat mengubah peta perdagangan secara cepat.

Selain diversifikasi, pemerintah juga mengoptimalkan berbagai perjanjian dagang yang telah dimiliki Indonesia. Upaya ini diharapkan mampu menekan hambatan tarif maupun non-tarif, sekaligus meningkatkan daya saing produk nasional di pasar internasional.

Budi menambahkan bahwa strategi ini menjadi sangat relevan untuk menghadapi disrupsi global. Ia berkaca pada pengalaman pandemi Covid-19 yang sempat mengganggu rantai pasok dunia, namun justru membuka peluang bagi negara lain untuk mengisi kekosongan pasar.