RanahTeknologi

FSI Dorong Pemanfaatan Teknologi Digital Perkuat Kontribusi Masyarakat Tionghoa bagi Bangsa

20
×

FSI Dorong Pemanfaatan Teknologi Digital Perkuat Kontribusi Masyarakat Tionghoa bagi Bangsa

Sebarkan artikel ini
ruang-digital-bisa-perkuat-kontribusi-tionghoa-untuk-indonesia
Ruang Digital Bisa Perkuat Kontribusi Tionghoa untuk Indonesia

Jakarta – Forum Sinologi Indonesia (FSI) menyoroti peran strategis teknologi digital sebagai instrumen vital dalam merajut persatuan di tengah kemajemukan bangsa.

Pemerhati Tionghoa dan Tiongkok, Johanes Herlijanto, menilai keterlibatan etnik Tionghoa dalam dinamika kebangsaan kini telah meluas melampaui sektor ekonomi.

Partisipasi aktif tersebut secara otomatis mematahkan stigma lama yang sempat membatasi peran mereka hanya pada ranah bisnis.

Johanes menegaskan bahwa narasi mengenai loyalitas etnik Tionghoa sudah tidak relevan lagi karena mereka telah membuktikan kontribusi nyata dalam pembangunan nasional.

Di sisi lain, Asisten Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Isyak Meirobie, memperingatkan ancaman polarisasi yang dipicu oleh algoritma media digital.

Teknologi ibarat pisau bermata dua yang mampu menjadi alat pemersatu sekaligus pemicu perpecahan di masyarakat.

Isyak mengajak publik untuk memaknai nasionalisme sebagai semangat kebersamaan yang organik dalam bingkai kata “kita”.

Pemanfaatan ruang digital harus diarahkan untuk menyebarkan pesan positif guna memperkuat kohesi sosial.

Penggunaan media sosial secara kritis menjadi kunci utama agar algoritma tidak membatasi ruang dialog antarberbagai kelompok masyarakat.

Optimalisasi teknologi digital diharapkan mampu menjembatani pengenalan kontribusi setiap elemen bangsa kepada khalayak yang lebih luas.

Peneliti Pusat Riset Politik BRIN, Lidya Christin Sinaga, mengamati evolusi partisipasi masyarakat Tionghoa yang terus berkembang seiring proses demokratisasi.

Interaksi yang dulunya bersifat eksklusif kini telah bertransformasi melintasi sekat-sekat etnik maupun agama.

Era digital berperan sebagai katalisator yang memangkas hambatan jarak dalam komunikasi lintas kelompok.

Keterbukaan dan intensitas interaksi antaridentitas ini menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih inklusif.