Padang – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tertekan di level Rp17.000 sepanjang pekan ini. Pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026), mata uang Garuda melemah ke posisi Rp17.104 per dolar AS atau terkoreksi sebesar 0,08 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, memperingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkepanjangan akan memicu kenaikan harga barang impor dan mendorong inflasi secara bertahap. Kondisi ini diprediksi memberikan tekanan langsung terhadap biaya hidup masyarakat.
Syafruddin menjelaskan, dampak awal akan terasa pada kenaikan harga pangan impor, bahan baku makanan, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, hingga pakan ternak. Ketergantungan tinggi terhadap rantai pasok global membuat komoditas tersebut sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Tekanan inflasi diperkirakan semakin berat akibat tingginya harga energi dunia. Saat ini, harga minyak Brent berada di level US$ 96,48 per barel dan WTI di US$ 98,72 per barel. Lonjakan biaya energi akan mengerek ongkos transportasi dan distribusi, yang berdampak pada kenaikan harga barang di pasar tradisional maupun ritel modern.
“Rumah tangga miskin dan kelas menengah akan menanggung beban paling berat karena porsi belanja mereka terkonsentrasi pada makanan, transportasi, dan kebutuhan rutin,” ujar Syafruddin.
Ia menambahkan, kenaikan harga di tingkat konsumen akan terjadi secara perlahan namun pasti, bergantung pada struktur biaya di masing-masing sektor.
Indikator pasar menunjukkan tekanan ini diprediksi bertahan dalam waktu dekat. Posisi USD/IDR spot berada di 17.085, sementara 1-month forward di 17.100 dan 3-month forward di 17
Padang – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tertahan di level Rp17.000 sepanjang pekan ini. Pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026), mata uang Garuda ditutup melemah di posisi Rp17.104 per dolar AS, atau terkoreksi 0,08 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, memperingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkepanjangan akan memicu kenaikan harga barang impor dan mendorong inflasi secara bertahap. Kondisi ini diprediksi akan memberikan tekanan langsung pada biaya hidup masyarakat.
Syafruddin menjelaskan, dampak awal akan terasa pada kenaikan harga pangan impor, bahan baku makanan, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, pakan ternak, hingga barang kebutuhan rumah tangga. Hal ini terjadi karena komoditas tersebut sangat bergantung pada rantai pasok global.
Tekanan inflasi diperkirakan semakin berat seiring tingginya harga energi dunia. Saat ini, harga minyak Brent berada di level US$ 96,48 per barel dan WTI di US$ 98,72 per barel. Kenaikan biaya energi akan memicu lonjakan ongkos transportasi dan distribusi, yang akhirnya mengerek harga barang di pasar tradisional maupun ritel modern.
“Rumah tangga miskin dan kelas menengah akan menanggung beban paling berat karena porsi belanja mereka terkonsentrasi pada makanan, transportasi, dan kebutuhan rutin,” ujar Syafruddin.
Ia menambahkan, kenaikan harga di tingkat konsumen tidak akan terjadi secara serentak, melainkan perlahan namun pasti. Laju inflasi ke depan akan sangat bergantung pada struktur biaya di masing-masing sektor.
Indikator pasar menunjukkan tekanan ini diprediksi tidak akan hilang dalam waktu dekat. Posisi USD/IDR spot berada di 17.085, sementara 1-month forward di 17.100 dan 3-month forward di 17.128. Struktur ini mencerminkan ekspektasi pelaku pasar bahwa rupiah masih akan melemah dalam beberapa bulan ke depan.
Faktor ekstern






