Ranah

Pupuk Indonesia Siapkan Ekspor Urea, Prioritaskan Petani Dalam Negeri

341
×

Pupuk Indonesia Siapkan Ekspor Urea, Prioritaskan Petani Dalam Negeri

Sebarkan artikel ini
pupuk-indonesia-jaga-pasokan,-siap-ekspor-urea-saat-aman
Pupuk Indonesia Jaga Pasokan, Siap Ekspor Urea saat Aman

Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan siap membuka peluang ekspor pupuk urea ke pasar global, namun tetap menempatkan kebutuhan petani dalam negeri sebagai prioritas utama. Perusahaan memastikan ekspor hanya akan dilakukan jika pasokan nasional benar-benar aman.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan perseroan memiliki ketahanan pasokan yang kuat di tengah dinamika geopolitik dunia, khususnya untuk komoditas urea. Ia menegaskan langkah ekspor tidak akan diambil selama kebutuhan dalam negeri belum tercukupi.

“Arahan dari Kementerian Pertanian melalui Pak Wakil Menteri Pertanian sangat jelas. Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri cukup,” kata Rahmad usai mendampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bertemu Duta Besar India untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Rahmad menilai posisi Indonesia kini makin strategis karena termasuk salah satu produsen urea terbesar di dunia. Menurut dia, gangguan rantai pasok pupuk global justru membuka ruang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar lewat ekspor.

“Di tengah gejolak global, banyak orang selalu berpikir kita pasti rentan. Tapi ternyata di sektor industri pupuk kita itu kita tidak rentan, justru malah bisa mengambil posisi sebagai salah satu penyelamat ekosistem pangan regional. Karena kita bisa membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk,” ujarnya.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan sudah ada empat negara yang berkomunikasi untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia. Keempat negara itu adalah Australia, India, Filipina, dan Brasil, di tengah gangguan distribusi global akibat situasi di Selat Hormuz.

Meski begitu, pemerintah menegaskan kebijakan ekspor akan diterapkan secara hati-hati. Sudaryono menekankan kebutuhan petani di dalam negeri harus dipenuhi lebih dulu sebelum ekspor dilakukan.

“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” kata dia.

Rahmad memastikan rencana ekspor tidak akan mengganggu pasokan domestik. Ia mengatakan perusahaan menghitung kebutuhan berdasarkan masa tanam, dan ekspor hanya dilakukan jika ada penugasan resmi dari pemerintah serta stok untuk petani dipastikan aman.

“Nah, kita tidak mungkin akan mengekspor ketika musim tanam. Itu tadi jelas dan Dubes India sudah menyepakati bahwa kita mengekspor di luar musim tanam,” ucap Rahmad.

Saat ini, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi urea sebesar 9,4 juta ton per tahun. Jumlah itu lebih tinggi dibanding kebutuhan domestik yang berada di kisaran 6 juta hingga 7 juta ton per tahun.

Kapasitas produksi tersebut ditopang pasokan bahan baku utama berupa gas alam yang dijamin pemerintah, baik dari sisi volume maupun harga. Dengan dukungan itu, stok pupuk perusahaan per 14 April 2026 mencapai sekitar 1,2 juta ton, baik subsidi maupun non-subsidi.

“Saat ini (stok kami) 1,2 juta ton. Jadi 1,2 juta ton ditambah dengan produksi kita yang setiap hari itu untuk urea saja sekitar 25 ribu ton per hari. Ditambah untuk NPK kita itu kira-kira sekitar 15 ribu ton per hari. Jadi sangat cukup,” kata Rahmad.

Di sisi lain, pemerintah juga memastikan harga pupuk subsidi tetap stabil meski harga pupuk dunia berfluktuasi. Penurunan Harga Eceran Tertinggi atau HET pupuk subsidi sebesar 20 persen pada Oktober 2025 menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keterjangkauan bagi petani.

“Seperti yang sudah ditegaskan oleh Pak Mentan dan Wamentan, HET pupuk subsidi untuk petani akan tetap sama. Artinya ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia justru turun,” ujarnya.