Jakarta – Peluang peningkatan produksi bawang merah di Indonesia semakin terbuka setelah teknologi budidaya dari biji atau True Shallot Seed (TSS) dinilai mampu menjawab rendahnya produktivitas petani di tengah tingginya kebutuhan pasar.
Konsumsi bawang merah di Indonesia saat ini mencapai sekitar 2,8 hingga 3 kilogram per kapita per tahun. Namun, rata-rata hasil panen nasional baru berada di kisaran 9 hingga 10 ton per hektare.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan capaian itu masih jauh dari potensi maksimal yang bisa dicapai lewat pemanfaatan teknologi dan benih unggul. Kondisi tersebut membuat inovasi budidaya bawang merah dari biji semakin dilirik.
Melalui teknologi TSS, khususnya benih bawang merah Merdeka F1, petani disebut berpeluang memanen 14 hingga 18 ton per hektare. Angka itu setara kenaikan sekitar 40 hingga 80 persen dibandingkan cara konvensional.
Tak hanya meningkatkan produksi, TSS juga menekan biaya bibit hingga 30 hingga 50 persen. Efisiensi ini dinilai bisa memperbesar peluang keuntungan petani sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat tingginya modal awal produksi.
Managing Director PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Glenn Pardede, menegaskan inovasi menjadi faktor penting untuk mendorong kesejahteraan petani. Ia menilai produktivitas tidak akan bergerak jika petani berjalan tanpa pembaruan teknologi.
“Inovasi adalah hal yang sangat penting bagi petani. Tanpa inovasi, produktivitas akan stagnan, sementara tantangan terus meningkat,” kata Glenn, Minggu, 19 April 2026.
Sebagai produsen benih sayuran unggul yang telah beroperasi lebih dari 35 tahun di Indonesia, Ewindo terus mendorong pengembangan teknologi pertanian, termasuk lewat TSS. Glenn mengatakan hadirnya benih unggul seperti Merdeka F1 tidak hanya untuk mengejar hasil panen, tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha tani.
“Kami ingin petani tidak hanya panen lebih banyak, tetapi juga lebih efisien dan berdaya saing. TSS adalah salah satu inovasi yang kami dorong untuk mencapai tujuan tersebut,” ujarnya.
Dampak penerapan inovasi itu mulai dirasakan di lapangan. Salah satunya dialami Tono Suwarna, yang memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai negeri sipil untuk menekuni budidaya bawang merah. Keputusan yang semula terbilang berisiko itu justru menjadi titik balik dalam hidupnya.






