Bukittinggi – Persatuan Sepak Bola Kota Bukittinggi (PSKB) menghadapi tantangan besar di tengah sejarah panjangnya sebagai salah satu klub sepak bola kebanggaan daerah. Di saat nama besar klub berjuluk Pandeka Agam Tuo masih lekat di ingatan, kondisi terkini justru memperlihatkan penurunan prestasi sekaligus ancaman terhadap Stadion Ateh Ngarai.
PSKB pernah menembus kompetisi tingkat nasional pada 1998 dan 2005. Pada 2005, klub itu bahkan melaju hingga babak semifinal Liga 2 yang kala itu masih bernama Divisi 1, sebelum langkahnya terhenti akibat kendala pascagempa 2006.
Klub yang bermarkas di Stadion Ateh Ngarai itu juga mencatat prestasi dengan menjuarai Liga 3 Sumatera Barat pada 2021 dan 2023. Dalam perjalanannya, PSKB kerap mewakili Sumatera Barat di ajang Liga 3 Nasional.
Namun, pamor PSKB dinilai terus meredup dari waktu ke waktu. Sorotan juga mengarah ke kondisi Stadion Ateh Ngarai, seiring tebing ngarai di sisi utara yang terus tergerus dan mengalami longsor.
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Wali Kota Bukittinggi H Ibnu Asis menekankan perlunya langkah bersama untuk mengembalikan kejayaan PSKB. Ia menilai seluruh pihak perlu duduk bersama membahas persoalan yang membelit klub itu.
“Tentunya tidak, semua pihak harus bersatu padu untuk mambangkik batang tarandam kejayaan PSKB Kota Bukittinggi,” kata Ibnu Asis.
Menurut dia, pertemuan yang melibatkan para pemangku kepentingan dibutuhkan agar akar persoalan yang dihadapi klub dapat diketahui secara jelas. Dari situ, kata dia, solusi terbaik bisa dirumuskan bersama.
“Dari duduk bersama dengan melibatkan stakeholder itu, tentunya bisa diketahui jalan keluar dari persoalan yang ada,” ujarnya.
Ibnu Asis, yang akrab disapa Aby, juga meyakini seluruh pihak memiliki rasa cinta dan kebanggaan terhadap PSKB. Karena itu, menurut dia, Pemerintah Kota Bukittinggi berkepentingan mendorong kebangkitan klub tersebut.
“Harus diingat, PSKB adalah kebanggaan kita dan pastinya semua pihak ingin klub ini kembali besar,” katanya.






