Jakarta – Algoritma kecerdasan buatan kini memegang kendali penuh atas pola konsumsi informasi masyarakat melalui sistem kurasi digital yang semakin dominan.
Pergeseran paradigma ini menjadi fokus utama dalam diskusi panel Dewan Profesor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya yang membedah dampak teknologi terhadap etika komunikasi digital.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyoroti transformasi fundamental dalam relasi antara media dan audiens di era modern.
Publik saat ini telah beralih peran dari sekadar konsumen pasif menjadi produsen sekaligus penyebar informasi aktif di berbagai platform media sosial.
Dominasi machine learning dalam menyaring konten berpotensi menciptakan fenomena echo chamber dan filter bubble yang menyempitkan cakrawala berpikir pengguna.
Teknologi AI kini telah melampaui fungsinya sebagai alat bantu produksi, melainkan menjadi penentu utama alur pemrosesan informasi bagi publik.
Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni Unika Atma Jaya, Prof. Rosdiana Sijabat, menilai AI telah menyusup jauh ke dalam logika sosial masyarakat.
Proses mediatisasi terjadi saat manusia mulai mendiktekan cara kerja mereka mengikuti logika yang ditetapkan oleh sistem kecerdasan buatan.
Ketergantungan pada sistem algoritmik ini secara nyata memengaruhi preferensi individu hingga pengambilan keputusan krusial dalam kehidupan sehari-hari.
Munculnya konten sintetis, deepfake, serta bias algoritmik kini menjadi ancaman serius bagi kredibilitas informasi di ruang digital.
Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), menekankan urgensi menjaga martabat manusia di tengah pesatnya inovasi teknologi.
Teknologi seharusnya berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kapasitas manusia, bukan justru memicu ketergantungan yang merugikan.
Media dan teknologi wajib berperan sebagai instrumen pencerahan agar masyarakat tidak mudah terjerumus dalam manipulasi informasi.






