Padang – Banjir bandang yang menerjang Sumatera Barat (Sumbar) telah merenggut nyawa 234 orang. Data terbaru dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar juga mencatat 95 orang masih hilang dan 112 lainnya mengalami luka-luka.
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumbar, Arry Yuswandi, mengungkapkan, dari total korban meninggal, 204 orang telah berhasil diidentifikasi. Sementara, 30 jenazah lainnya masih belum dikenali.
“Data ini menggambarkan skala bencana yang sangat besar dan membutuhkan penanganan cepat di seluruh sektor,” ujar Arry, Senin (8/12/2025).
Bencana ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur dan fasilitas umum.
Pemprov Sumbar memperkirakan total kerugian mencapai Rp1,9 triliun.
Ribuan rumah dilaporkan rusak akibat terjangan banjir. Rinciannya, 5.290 unit mengalami rusak ringan, 983 unit rusak sedang, 1.628 unit rusak berat, 38.670 unit terendam, dan 691 unit hilang atau hanyut.
Fasilitas umum juga tak luput dari kerusakan, termasuk 153 rumah ibadah, 66 fasilitas kesehatan, 28 kantor, dan 170 sekolah.
Sektor pertanian juga terdampak signifikan. Tercatat, 6.749 hektare sawah dan 6.713 hektare lahan pertanian mengalami kerusakan.
Selain itu, 1.031 hektare kebun dan 10.486 hektare kolam budidaya juga hancur akibat bencana ini.
Infrastruktur juga mengalami kerusakan yang signifikan, meliputi 73 titik layanan air bersih, 147 titik telekomunikasi, 172 titik jalan, dan 46 titik jembatan.
Akses di wilayah Silungkang yang sempat terputus akibat banjir bandang, kini mulai dapat dilalui kembali secara bertahap.
Namun, sejumlah titik, termasuk di Jorong Tantaman, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, akses masih terputus akibat timbunan material lumpur, batu, dan kayu.
Pemprov Sumbar terus memperbarui data dampak bencana dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat penanganan di seluruh wilayah terdampak.






