Ranah

BI Dorong Hilirisasi Komoditas Unggulan untuk Perkuat Ekonomi Bengkulu

126
×

BI Dorong Hilirisasi Komoditas Unggulan untuk Perkuat Ekonomi Bengkulu

Sebarkan artikel ini
bi-soroti-komoditas-ekspor-batu-bara-dan-cpo-dari-bengkulu
BI Soroti Komoditas Ekspor Batu Bara dan CPO dari Bengkulu

Bengkulu – Bank Indonesia (BI) menyoroti kerentanan ekonomi Provinsi Bengkulu yang masih sangat bergantung pada pasar tradisional dan minimnya hilirisasi komoditas unggulan, yakni batu bara dan Crude Palm Oil (CPO). Ketergantungan ini dinilai berisiko di tengah tekanan geopolitik global.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, menyatakan bahwa meski Bengkulu merupakan salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di Sumatera, ketergantungan pada pasar India, Tiongkok, dan negara ASEAN menjadi titik lemah stabilitas ekonomi daerah.

“Bengkulu merupakan salah satu penyumbang produksi dan ekspor batu bara tertinggi di wilayah Sumatera. Namun, ketergantungan pada pasar tradisional menjadi titik lemah bagi stabilitas ekonomi daerah,” ujar Irfan dalam Sarasehan Perekonomian Bengkulu, Kamis (9/4/2026).

Data menunjukkan produksi batu bara Bengkulu pada 2025 mencapai 10-15 juta ton. Angka ini menempatkan Bengkulu sebagai pemain utama di Sumatera setelah Sumatera Selatan (120 juta ton) dan Jambi (20-30 juta ton). Namun, Kementerian ESDM mencatat rerata ekspor batu bara Bengkulu hanya 2,41 juta ton atau 4,41 persen dari total produksi.

Kondisi serupa terjadi pada sektor kelapa sawit. Sepanjang 2025, produksi CPO mencapai 1,38 juta ton (5,27 persen pangsa Sumatera) dengan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 4,49 juta ton dari luas lahan 0,42 juta hektare.

Irfan mengungkapkan, kinerja ekspor CPO Bengkulu pada Januari-Februari 2026 masih tertinggal jauh dibandingkan provinsi tetangga seperti Riau (2,16 juta ton) dan Sumatera Utara (0,83 juta ton). Hal ini mencerminkan belum optimalnya rantai pasok dan hilirisasi.

Untuk menjaga keberlangsungan ekonomi, BI merekomendasikan empat langkah strategis. Pertama, meningkatkan konektivitas distribusi dan pengembangan industri hilirisasi guna memberikan nilai tambah produk.

Kedua, melakukan restrukturisasi sektor logistik untuk menekan biaya tinggi yang menghambat eksportir lokal. Ketiga, memperkuat Domestic Market Obligation (DMO) untuk menyeimbangkan kebutuhan energi dalam negeri dengan target produksi tahunan.

Terakhir, BI mendorong diversifikasi pasar dengan mengurangi ketergantungan pada India dan Tiongkok serta mulai menyasar pasar nontradisional.

Bengkulu – Bank Indonesia (BI) menyoroti kerentanan ekonomi Provinsi Bengkulu yang masih sangat bergantung pada pasar tradisional untuk komoditas batu bara dan Crude Palm Oil (CPO). Ketergantungan ini dinilai berisiko di tengah tekanan geopolitik global, ditambah dengan minimnya hilirisasi produk unggulan daerah.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, menyatakan bahwa Bengkulu merupakan salah satu penyumbang produksi dan ekspor batu bara terbesar di Sumatera. Namun, ketergantungan pada pasar utama seperti India, Tiongkok, dan negara-negara ASEAN menjadi kelemahan bagi stabilitas ekonomi daerah.

Pernyataan tersebut disampaikan Irfan dalam acara Sarasehan Perekonomian Bengkulu, Kamis, 9 April 2026.

Data menunjukkan produksi batu bara Bengkulu pada 2025 mencapai 10-15 juta ton. Angka ini menempatkan Bengkulu sebagai pemain utama di Sumatera setelah Sumatera Selatan dengan produksi 120 juta ton dan Jambi dengan 20-30 juta ton.

Meski produksi tinggi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat rerata ekspor batu bara Bengkulu hanya sebesar 2,41 juta ton atau 4,41 persen dari total produksi.

Kondisi serupa terjadi pada sektor kelapa sawit. Sepanjang 2025, Bengkulu memproduksi 1,38 juta ton CPO (5,27 persen pangsa Sumatera) dan 4,49 juta ton Tandan Buah Segar (TBS) dengan luas lahan 0,42 juta hektare.

Namun, kinerja ekspor CPO Bengkulu pada periode Januari-Februari 2026 masih tertinggal jauh dibandingkan provinsi tetangga. Volume ekspor Bengkulu berada di posisi bawah jika dibandingkan dengan Riau yang mencapai 2,16 juta ton dan Sumatera Utara sebesar 0,83 juta ton.

Irfan menegaskan bahwa produksi yang memadai belum sepenuhnya diikuti oleh kinerja ekspor yang optimal. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan hilirisasi dan integrasi rantai pasok agar ekonomi daerah lebih berdaya saing.