EkonomiRanah

BI Prediksi Laju Usaha Melambat Kuartal IV 2025

151
×

BI Prediksi Laju Usaha Melambat Kuartal IV 2025

Share this article
bi-prediksi-kegiatan-usaha-melambat-pada-akhir-2025
BI Prediksi Kegiatan Usaha Melambat pada Akhir 2025

Jakarta – Laju kegiatan dunia usaha diperkirakan melambat pada kuartal IV 2025. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) hanya mencapai 10,53 persen.

Angka ini lebih rendah dari kuartal III 2025 yang mencatatkan 11,55 persen. Bahkan, di bawah capaian kuartal IV 2024 sebesar 12,46 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan mayoritas sektor usaha masih akan tumbuh.

Perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor, transportasi dan pergudangan, akomodasi dan makan minum, serta informasi dan komunikasi menjadi penopang utama.

“Hal ini sejalan dengan peningkatan aktivitas saat Natal dan libur akhir tahun,” ujar Denny dalam keterangan tertulis, Minggu (19/10/2025).

Perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor diprediksi tumbuh dengan SBT 1,14 persen.

Transportasi dan pergudangan diperkirakan tumbuh 1,06 persen, diikuti akomodasi dan makan minum sebesar 0,83 persen.

Sektor informasi dan komunikasi juga diproyeksikan tumbuh 0,96 persen.

Namun, pertanian, kehutanan, dan perikanan diperkirakan mengalami penurunan pertumbuhan hingga -0,86 persen. Penurunan ini menahan laju pertumbuhan kegiatan usaha secara keseluruhan.

Pada kuartal III 2025, kinerja dunia usaha masih tumbuh positif, meski lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Kuartal II 2025 mencatat pertumbuhan 11,70 persen.

Sejumlah sektor mencatatkan peningkatan kinerja, terutama konstruksi (1,12 persen), pertambangan dan penggalian (0,64 persen), industri pengolahan (1,61 persen), jasa keuangan (2,20 persen), serta administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (0,79 persen).

Sementara itu, kinerja beberapa sektor mengalami moderasi, seperti perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor (0,92 persen) dan pertanian, kehutanan, dan perikanan (0,87 persen).