Jakarta – Masyarakat diyakinkan bahwa beras impor sisa tahun 2024 aman dikonsumsi. Perum Bulog menjamin kualitas beras tetap terjaga.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan, pihaknya rutin melakukan perawatan dan pemeliharaan stok beras sesuai standar.
“Kita olah harian, dibersihkan, dan digunakan alat-alat (mesin pemilah modern) untuk memastikan beras layak konsumsi,” kata Rizal saat ditemui di Gudang Bulog, Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (6/9/2025).
Bulog secara berkala memeriksa kualitas beras, mulai dari harian hingga per semester.
Pemeliharaan meliputi pemeriksaan awal saat beras masuk gudang, menjaga sanitasi, penyemprotan, hingga fumigasi jika ada indikasi hama.
Bulog menerapkan prinsip “First In, First Out” (FIFO) dan “First Expired, First Out” (FEFO) saat mengeluarkan beras dari gudang. Prioritas penyaluran juga mempertimbangkan kondisi riil kualitas beras.
Jika ditemukan beras yang cepat menguning, Bulog akan melakukan fumigasi ulang, pemisahan, hingga pengolahan kembali.
Beras yang tidak layak konsumsi akan dimanfaatkan untuk kebutuhan industri lain seperti pakan.
Bulog memastikan penyiapan beras sesuai dengan penugasan pemerintah, baik beras medium (broken maksimal 25 persen) maupun premium (broken maksimal 15 persen).
Kapasitas gudang Bulog di Jakarta mencapai 355.200 ton yang tersebar di 74 gudang.
Stok beras di Jakarta merupakan bagian dari total cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 3,9 juta ton.
Sebanyak 2,95 juta ton (75 persen) CBP merupakan hasil pengadaan dalam negeri, sisanya dari impor 2024.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menyebutkan sisa stok beras impor 2024 sekitar 1 juta ton.
Arief menambahkan, proses impor beras tahun 2024 telah selesai dan tidak ada lagi impor pada tahun 2025.
“Khusus untuk beras luar negeri itu sekarang sisanya 1 juta ton. Usia simpannya yang 7-12 bulan ada 896 ribu ton. Tapi impor sudah selesai tahun lalu dan tidak ada impor tahun ini,” pungkasnya.






