BeritaRanah

Gubernur Mahyeldi Tegaskan Integritas dan Akhlak sebagai Fondasi Kepemimpinan Nasional

54
×

Gubernur Mahyeldi Tegaskan Integritas dan Akhlak sebagai Fondasi Kepemimpinan Nasional

Sebarkan artikel ini
gubernur-mahyeldi-:-kepemimpinan-harus-berakar-pada-nilai-dan-keteladanan
Gubernur Mahyeldi : Kepemimpinan Harus Berakar pada Nilai dan Keteladanan

Depok – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa integritas dan akhlak merupakan pilar utama yang jauh lebih krusial dibandingkan sekadar kecerdasan teknis dalam kepemimpinan nasional.

Pesan tersebut disampaikan Mahyeldi saat didapuk menjadi pembicara utama dalam kuliah umum bertajuk “Kepemimpinan Nasional sebagai Kunci Pembinaan SDM Unggul Bangsa” di Institute SEBI, Depok, Senin (31/8/2026).

Agenda tersebut sekaligus menjadi ajang peluncuran serta bedah buku berjudul “40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa”.

Mahyeldi menyoroti bahwa setiap posisi strategis menuntut tanggung jawab moral yang berat dalam setiap kebijakan yang diambil.

“Pemimpin bukan hanya orang yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, tetapi juga orang yang mampu memberikan keteladanan dan memastikan setiap kewenangan yang dimiliki digunakan untuk kemaslahatan masyarakat,” tegasnya.

Ia meyakini bahwa pembangunan sumber daya manusia yang unggul harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter serta integritas yang kokoh.

Ilmu pengetahuan yang dikuasai generasi penerus, menurutnya, harus diabdikan sepenuhnya bagi kepentingan bangsa dan masyarakat luas.

Mengenai buku yang dibedah, Mahyeldi menyebut karya tersebut sebagai pengingat penting bahwa kekuasaan hanyalah sebuah amanah, bukan tujuan akhir.

“Kami melihat bahwa buku 40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa adalah pengingat yang tegas sekaligus lembut, bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat untuk menegakkan keadilan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa tolok ukur keberhasilan seorang pemimpin terletak pada besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat, bukan durasi masa jabatannya.

“Pemimpin sejati diukur bukan oleh lamanya berkuasa, tetapi oleh seberapa besar maslahat yang dihasilkannya,” imbuh Mahyeldi.

Gubernur Sumbar ini juga memperingatkan bahwa kepemimpinan yang mengabaikan nilai-nilai moral akan kehilangan arah dan mudah rapuh.

“Kekuasaan tanpa akhlak akan rapuh, dan kepemimpinan tanpa petunjuk Ilahi akan kehilangan arah,” tuturnya.

Ia berharap forum diskusi ini mampu memicu dialog konstruktif dalam melahirkan pemimpin masa depan yang kompeten sekaligus berintegritas.

“Pada akhirnya, kepemimpinan adalah amanah; semakin besar kewenangan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya bagi kepentingan masyarakat,” pungkasnya.

Kuliah umum tersebut turut dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Yassierli.