Ranah

Harga Kemasan Plastik Naik, Produsen Makanan Sesuaikan Harga Jual

135
×

Harga Kemasan Plastik Naik, Produsen Makanan Sesuaikan Harga Jual

Sebarkan artikel ini
pengusaha:-harga-beras-dan-minyak-naik-karena-harga-plastik
Pengusaha: Harga Beras dan Minyak Naik karena Harga Plastik

Jakarta – Industri makanan dan minuman di tanah air kini menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga serta kelangkaan pasokan bahan baku plastik. Ketergantungan tinggi terhadap kemasan plastik membuat pelaku usaha terpaksa menyesuaikan harga jual produk di pasaran.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyebut situasi ini sangat rumit. Pasalnya, hampir seluruh produk makanan dan minuman menggunakan plastik sebagai kemasan utama.

“Hampir semua pakai plastik, dan kita juga kesulitan mendapat bahan baku dari pemasok,” ujar Adhi usai menghadiri Rapat Koordinator soal Investigasi Dagang AS di Jakarta, Senin, 13 April 2026.

Adhi memaparkan bahwa harga bahan baku plastik di tingkat pemasok telah melonjak antara 30 persen hingga 100 persen. Kenaikan harga ini mencakup berbagai jenis kemasan, mulai dari plastik untuk bakso hingga produk daging beku.

Selain harga, ketersediaan stok menjadi persoalan krusial. Sejumlah pemasok bahkan telah memberikan sinyal bahwa stok bahan baku kemasan berpotensi habis dalam beberapa bulan ke depan, yakni pada Mei atau Juni mendatang.

Lonjakan harga plastik ini berdampak signifikan terhadap harga pokok produksi (HPP). Adhi mencontohkan, jika kontribusi kemasan mencapai 25 persen dari harga pokok, maka kenaikan harga plastik sebesar 100 persen akan sangat membebani industri.

Kondisi ini memaksa pelaku industri untuk menaikkan harga jual produk di pasar. Dampaknya kini mulai terasa pada komoditas kebutuhan dasar, seperti beras dan minyak goreng, di mana kenaikan harga terjadi bukan karena nilai barangnya, melainkan akibat mahalnya biaya kemasan plastik.

Adhi menambahkan, pelaku usaha kini terjepit di tengah terbatasnya daya beli masyarakat. Jika perusahaan hanya mampu menaikkan harga jual sebesar 5 persen sementara biaya produksi meningkat tajam, maka margin keuntungan perusahaan akan tergerus.

“Industri mengalami kesulitan untuk menjual karena produknya pasti harganya mahal, sementara daya beli masyarakat terbatas,” pungkasnya.

Jakarta – Industri makanan dan minuman di tanah air kini menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga serta kelangkaan pasokan bahan baku plastik. Ketergantungan yang tinggi terhadap kemasan plastik membuat pelaku usaha terpaksa menyesuaikan harga jual produk di pasaran.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyatakan bahwa situasi ini menjadi tantangan serius bagi industri. Hampir seluruh produk makanan dan minuman saat ini masih mengandalkan plastik sebagai kemasan utama.

“Hampir semua pakai plastik, dan kita juga kesulitan mendapat bahan baku dari pemasok,” ujar Adhi usai menghadiri Rapat Koordinator soal Investigasi Dagang AS di Jakarta, Senin, 13 April 2026.

Selain harga yang melonjak antara 30 persen hingga 100 persen, ketersediaan stok menjadi persoalan krusial. Sejumlah pemasok bahkan telah memberikan sinyal bahwa stok bahan baku kemasan berpotensi habis pada Mei atau Juni mendatang.

Adhi menjelaskan, kenaikan harga plastik berdampak signifikan pada harga pokok produksi. Jika kontribusi kemasan mencapai 25 persen dari harga pokok, maka lonjakan harga plastik sebesar 100 persen akan sangat membebani industri.

“Industri mengalami kesulitan untuk menjual karena produknya pasti harganya mahal, sementara daya beli masyarakat terbatas,” tambahnya.

Dampak kenaikan biaya kemasan ini mulai terasa pada komoditas kebutuhan dasar, seperti beras dan minyak goreng. Kenaikan harga pada produk-produk tersebut kini dipicu oleh mahalnya biaya kemasan, bukan karena nilai barangnya.

Tekanan biaya ini pun menggerus margin keuntungan pelaku usaha. Adhi mencontohkan, jika kontribusi kemasan sebesar 20 persen dan harganya naik 60 persen, maka harga pokok produksi akan meningkat sekitar 12 persen. Jika pelaku usaha hanya mampu menaikkan harga jual sebesar 5 persen, maka perusahaan akan mengalami kerugian margin sebesar 7 persen.