Jakarta – Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) mengeluarkan imbauan penting kepada seluruh anggotanya untuk mengakhiri aksi mogok jual daging sapi mulai malam ini, Kamis (22/1/2026).
Imbauan ini muncul sebagai respons terhadap aksi mogok yang dilakukan pedagang daging di wilayah Jabodetabek, yang memprotes tingginya harga sapi hidup.
Ketua Umum JAPPDI, Asnawi, menyampaikan imbauan tersebut melalui keterangan video yang dirilis hari ini.
“Mulai malam hari ini dan seterusnya, tidak ada lagi aksi mogok berjualan,” tegas Asnawi.
Asnawi menjelaskan bahwa imbauan ini merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi yang digelar di Badan Pangan Nasional.
Rapat tersebut melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk Satuan Tugas Pangan, Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspinda), importir sapi bakalan, JAPPDI, dan APDI.
Dalam rapat tersebut, disepakati harga sapi timbang hidup di tingkat penggemukan (feedloter) sebesar Rp 55 ribu per kilogram.
Harga ini akan berlaku mulai hari ini hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri. Asnawi menjamin tidak akan ada kenaikan harga sapi timbang hidup selama periode tersebut.
JAPPDI juga membuka layanan pelaporan bagi pedagang yang menemukan feedloter menjual sapi di atas harga yang telah disepakati.
Laporan tersebut harus disertai bukti lengkap agar dapat diteruskan kepada Menteri Pertanian untuk tindakan lebih lanjut.
Namun, imbauan ini belum sepenuhnya mengakhiri aksi mogok.
Salah satu anggota APDI, Jarwo, menyatakan bahwa dirinya akan tetap melakukan mogok karena harga sapi hidup di tingkat feedloter belum turun secara serentak.
Pedagang di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan ini, mengaku tidak ingin membebani konsumen dengan harga daging yang mahal.
Pada hari yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengeluarkan ancaman tegas terhadap feedloter yang menaikkan harga daging.
“Kalau aku temukan, pasti 99 persen aku cabut izinnya dan tidak boleh lagi berbisnis di bidang itu,” kata Amran di Kementerian Pertanian, Kamis (22/1/2026).






