Ranah

Kerajinan Sapu Ijuk Lenyap, Tenun Tradisional Lunto Bertahan

133
×

Kerajinan Sapu Ijuk Lenyap, Tenun Tradisional Lunto Bertahan

Sebarkan artikel ini
kerajinan-sapu-ijuk-lunto-barat-tinggal-kenangan,-kades:-kini-hanya-tenun-yang-bertahan
Kerajinan Sapu Ijuk Lunto Barat Tinggal Kenangan, Kades: Kini Hanya Tenun yang Bertahan

Sawahlunto – Ikon kerajinan Desa Lunto Barat, sapu ijuk, terancam punah akibat serbuan sapu plastik. Kondisi ini diperparah dengan adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang berdampak pada pembangunan desa.

Kepala Desa Lunto Barat, Hendra A., mengungkapkan bahwa kejayaan sapu ijuk di era 90-an kini hanya tinggal kenangan.

“Maraknya sapu plastik membuat sapu ijuk kalah bersaing dan mati,” ujarnya, Rabu (8/10).

Meski demikian, Hendra masih melihat harapan pada kerajinan tenun tradisional. Namun, jumlah pengrajin tenun saat ini tidak banyak.

Di sisi lain, Desa Lunto Barat tetap menjadi daerah surplus beras dengan lahan sawah seluas 39 hektare. Masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangan dan menjaga ketahanan pangan desa.

“Kami bersama masyarakat selalu memelihara saluran irigasi untuk menunjang produksi beras,” kata Hendra.

Pada tahun 2025, pemerintah desa telah melakukan perbaikan irigasi sepanjang 86 meter dengan anggaran Rp83 juta.

Namun, efisiensi anggaran nasional berdampak besar pada pembangunan desa.

“Efisiensi anggaran dari pemerintah pusat sangat berpengaruh. Tahun 2026, kemungkinan besar tidak ada pembangunan fisik,” tutur Hendra.

Hendra berharap pemerintah pusat memprioritaskan anggaran untuk desa.

“Selayaknya pemerintah memberikan anggaran yang memadai, bukan justru mengurangi dana untuk pembangunan di desa,” tegasnya.

Meskipun anggaran terbatas, masyarakat Lunto Barat tetap menjaga semangat gotong royong.

“Kendati dana terbatas, kami tetap bergotong royong agar pekerjaan berat terasa ringan,” pungkas Hendra.