Jakarta – Pemerintah Rusia melancarkan serangan balasan berskala besar ke pusat komando dan target militer di Kiev sebagai respons atas tragedi mematikan di Starobelsk, Lugansk. Operasi balasan tersebut mengerahkan persenjataan canggih, termasuk sistem hipersonik jarak menengah Oreshnik serta rudal jelajah Zircon dan Kinzhal.
Ketegangan memuncak setelah serangan drone kamikaze Ukraina menghantam asrama mahasiswa di Starobelsk, yang menewaskan 21 orang-mayoritas remaja putri-dan melukai 60 lainnya. Moskow menuding penggunaan teknologi internet satelit Starlink milik Elon Musk menjadi faktor krusial yang memfasilitasi serangan tersebut.
Ketua Parlemen Rusia, Vyacheslav Volodin, mengecam keras keterlibatan infrastruktur satelit tersebut dalam operasi militer Ukraina. Ia menegaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas pendidikan itu akan diburu.
“Elon Musk harus memahami bahwa satelit-satelitnya digunakan untuk membunuh anak-anak,” tegas Volodin. Ia turut mempertanyakan kebijakan Amerika Serikat yang membiarkan rezim Kiev memanfaatkan jaringan satelit tersebut untuk kepentingan militer.
Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri Rusia, eskalasi konflik dalam sepekan terakhir mencatatkan angka korban sipil tertinggi sepanjang tahun ini, dengan 51 orang tewas dan hampir 200 lainnya terluka. Rodion Miroshnik, pejabat yang memimpin pelacakan kejahatan perang Ukraina, menyoroti pergeseran pola serangan Kiev yang kini semakin menyasar target sipil di wilayah perbatasan.
Secara teknis, Starlink dinilai menjadi kunci bagi Ukraina untuk melancarkan serangan jarak jauh sekaligus menembus sistem peperangan elektronik Rusia. Antena satelit tersebut dilaporkan terpasang langsung pada unit drone kamikaze guna menjaga stabilitas koneksi selama operasi berlangsung.
Di luar konflik Rusia-Ukraina, keterlibatan teknologi Starlink dalam ranah militer juga sempat memicu gesekan di tempat lain. Laporan Reuters mengungkap adanya perselisihan antara Elon Musk dan Pentagon terkait tarif konektivitas untuk Sistem Serangan Tempur Tanpa Awak Berbiaya Rendah (LUCAS) yang digunakan militer AS dalam perang di Iran. Musk disebut menekan Departemen Pertahanan AS untuk menaikkan biaya layanan satelit tersebut.






