EkonomiRanahTeknologi

Menaker Dorong Orang Tua Bekali Anak Keterampilan Adaptif Hadapi Masa Depan

69
×

Menaker Dorong Orang Tua Bekali Anak Keterampilan Adaptif Hadapi Masa Depan

Sebarkan artikel ini

Bandung – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa penguasaan keterampilan adaptif dan pembentukan karakter tangguh menjadi kunci utama bagi generasi muda Indonesia dalam menghadapi disrupsi teknologi serta kecerdasan buatan (AI).

Kesiapan sumber daya manusia (SDM) dinilai sebagai penentu keberhasilan Indonesia dalam mencapai target ekonomi global di masa depan.

Dalam forum Global Parenting Summit 2026 di Bandung, Sabtu (20/6/2026), Yassierli menyoroti pergeseran lanskap ketenagakerjaan yang kian dinamis.

Transformasi digital, otomatisasi, hingga tren ekonomi hijau menuntut SDM yang tidak sekadar mahir teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan belajar berkelanjutan.

Merujuk pada Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, sebanyak 22 persen pekerjaan diproyeksikan mengalami perubahan signifikan hingga 2030.

Meski terdapat 92 juta posisi yang berisiko tergantikan oleh otomatisasi, laporan tersebut juga memprediksi munculnya 170 juta peluang kerja baru yang membutuhkan kompetensi berbeda.

“Lanskap dunia kerja terus berubah. Karena itu, kita perlu menyiapkan generasi masa depan agar memiliki kemampuan untuk berkembang dan menghadapi berbagai perubahan yang akan datang,” ungkap Yassierli.

Pemerintah sendiri telah mematok target ambisius dalam RPJPN 2025-2045, yakni membawa Indonesia masuk dalam jajaran lima besar ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita mencapai USD 23.000 hingga USD 30.300.

Yassierli menekankan bahwa realisasi visi tersebut sangat bergantung pada kualitas SDM di tengah momentum bonus demografi.

Selain kompetensi teknis, integritas, etika, tanggung jawab, dan empati dipandang sebagai fondasi yang tidak tergantikan oleh mesin.

Di tengah gempuran AI, kemampuan manusia dalam membangun kepercayaan dan kepemimpinan justru memiliki nilai tawar yang semakin tinggi.

“Semakin canggih AI, semakin penting keterampilan manusia yang tidak dapat ditiru oleh mesin. Semakin canggih AI, semakin langka dan semakin bernilai sentuhan manusia,” tegasnya.

Yassierli turut mendorong peran aktif orang tua sebagai ekosistem pembelajaran pertama bagi anak.

Ia mengingatkan bahwa tantangan masa depan tidak hanya terbatas pada penguasaan satu bidang pekerjaan, melainkan kemampuan beradaptasi terhadap profesi yang saat ini bahkan belum tercipta.

“Tugas kita bukan hanya menyiapkan mereka untuk satu pekerjaan tertentu, tetapi membekali mereka dengan kemampuan belajar, karakter yang kuat, serta keterampilan yang membuat mereka siap menghadapi berbagai perubahan di masa depan,” pungkasnya.