Padang – Fairy bread, atau roti peri, menjadi hidangan wajib di pesta anak-anak Australia. Roti lapis bertabur gula warna-warni ini populer karena mudah dibuat, murah, dan tampilannya yang menarik.
Meski pencetusnya tak diketahui, roti peri pertama kali disebut dalam surat kabar Australia, Hobart Mercury, pada 25 April 1929.
Artikel itu berisi imbauan agar warga membawa hidangan ke acara Big Swan Party, sebagai penghormatan kepada Putri Elizabeth II.
Acara tersebut mengundang anak-anak di Consumptive Sanatorium, fasilitas medis untuk merawat penyakit jangka panjang seperti tuberkulosis.
“Warga diimbau untuk membawa permen, karena dibutuhkan 160lb untuk mengisi semua angsa [2.623 peserta],” demikian kutipan dari surat kabar tersebut.
“Anak-anak akan memulai pesta mereka dengan roti peri dan mentega dan 100-an dan 1.000-an, dan kue, tart, dan kue buatan sendiri, hadiah dari 96 pembantu, tidak melupakan jeli dan es krim, dll.”
Lantas, bagaimana cara membuat hidangan populer ini?
Bahan yang dibutuhkan hanya tiga: roti tawar, mentega atau margarin, dan sprinkles (hundreds and thousands).
Cara membuatnya pun sederhana. Potong roti tawar menjadi segitiga, olesi dengan mentega atau margarin, lalu taburi dengan sprinkles.
Muhammad Agung Andani, mahasiswa Universitas Andalas, berpendapat bahwa bentuk segitiga adalah ikon dari fairy bread.
“Menurut saya, mungkin memang ada bentuk variasi lain dari roti peri, bisa berbentuk bunga, segiempat, bulat dan semacamnya. Namun tidak ada yang lebih kreatif ketimbang bentuk segitiga,” ujarnya.
Muhammad Zikri Alfurqan, mahasiswa Universitas Negeri Padang, menuturkan bahwa fairy bread begitu melekat dengan pesta ulang tahun anak di Australia karena kepraktisannya bagi orang tua dan daya tarik magis bagi anak-anak.
“Dari sudut pandang orang tua, ini adalah hidangan pesta impian: sangat murah, tidak perlu dimasak, dan bisa dibuat dalam jumlah banyak hanya dalam hitungan menit,” katanya.
“Namun bagi seorang anak, piring berisi potongan roti segitiga dengan ledakan warna-warni dari ‘hundreds and thousands’ bukanlah sekadar camilan. Itu adalah sebuah undangan ke dunia fantasi, sebuah makanan yang namanya saja sudah terdengar seperti dongeng, dengan rasa manis sederhana yang pasti disukai.”
Lebih jauh, Zikri menambahkan bahwa fairy bread menjadi ikon karena perannya sebagai kapsul waktu nostalgia.
“Orang dewasa yang menyiapkannya hari ini adalah anak-anak yang sama yang menyantapnya dengan gembira di pesta mereka puluhan tahun lalu,” tuturnya.
“Dengan menyajikannya, mereka tidak hanya memberi makan anak-anak, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan masa kecil mereka yang riang.”
Faktor sejarah, kemudahan pembuatan, dan tradisi menjadi alasan mengapa roti peri selalu hadir dalam perayaan anak-anak di Australia.






