EkonomiRanah

Merauke Kembangkan Food Estate, Ahli Australia Terlibat

218
×

Merauke Kembangkan Food Estate, Ahli Australia Terlibat

Share this article
airlangga-bandingkan-lahan-food-estate-merauke-dan-australia
Airlangga Bandingkan Lahan Food Estate Merauke dan Australia

Jakarta – Pemerintah terus memacu pengembangan lumbung pangan nasional (food estate) di Merauke, Papua. Ahli dari Australia dilibatkan dalam proyek strategis ini.

Menariknya, lahan di Merauke dinilai lebih unggul dibandingkan dengan lahan di Australia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan hal tersebut dalam Road to Jakarta Food Security Summit (JFSS), Selasa (13/1/2026).

“Para ahli dari Australia mengatakan tanah di Merauke dibandingkan Australia itu lebih baik,” kata Airlangga.

Airlangga menambahkan, para ahli Australia meyakini Merauke memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi lumbung pertanian.

Pengembangan food estate ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional. Tujuannya, mengurangi ketergantungan impor.

Pemerintah menekankan pentingnya penerapan modern farming untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor pertanian.

Fokus pengembangan food estate di Merauke adalah komoditas tebu yang terintegrasi dengan produksi etanol. Langkah ini sejalan dengan agenda transisi energi dan hilirisasi sektor pertanian.

Tebu diyakini sebagai tanaman asli Papua yang memiliki adaptasi lingkungan yang baik dan produktivitas tinggi.

Para ahli Australia menilai, dengan metode budidaya yang sama, hasil panen di Merauke berpotensi lebih tinggi dibandingkan Australia.

“Mereka melihat bahwa yield dan yang lain dengan metode yang sama, Merauke bisa menghasilkan lebih baik daripada Australia,” ujar Airlangga.

Pemerintah mendorong pengembangan etanol berbasis tebu untuk campuran bensin seperti E5 dan E10. Tujuannya, mendukung ketahanan energi nasional.

Kebutuhan etanol untuk campuran tersebut diperkirakan mencapai dua hingga tiga juta kiloliter.

Untuk mendukung intensifikasi, pemerintah memperkuat aspek pupuk, irigasi, mekanisasi, dan penyediaan bibit unggul.

Riset bibit berbasis genom menjadi game changer yang harus didorong, karena menentukan daya saing produksi pangan dan energi Indonesia.

Sebagai informasi tambahan, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah meneken kontrak pembangunan Jalan Wanam–Muting Segmen II di Papua Selatan sepanjang 80,5 kilometer dengan nilai Rp 4,8 triliun.

Proyek ini diharapkan mempercepat konektivitas infrastruktur di Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) Wanam–Muting.