EkonomiRanah

Pakar Bantah Klaim Mentan Soal Harga Beras Dunia

230
×

Pakar Bantah Klaim Mentan Soal Harga Beras Dunia

Sebarkan artikel ini
analisis-pakar-pertanian-soal-turunnya-harga-beras-dunia
Analisis Pakar Pertanian soal Turunnya Harga Beras Dunia

Jakarta – Klaim Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman soal penghentian impor beras mampu menekan harga global menuai bantahan. Ekonom pertanian menilai klaim tersebut tidak berdasar.

Khudori, Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PEPI), menegaskan bahwa keputusan Indonesia untuk tidak mengimpor beras pada tahun 2025 tidak memberikan dampak signifikan terhadap penurunan harga beras di pasar global.

“Meskipun Indonesia tidak impor beras tahun ini, permintaan beras tidak turun,” kata Khudori dalam keterangan tertulis, Rabu (24/12/2025).

Sebelumnya, Mentan Amran mengklaim kebijakan penghentian impor beras Indonesia pada 2025 berhasil memengaruhi penurunan harga komoditas tersebut di pasar internasional.

Amran bahkan menyebut Indonesia telah berkontribusi menurunkan harga beras dunia dari US$ 650 per ton menjadi US$ 371 per ton.

Namun, Khudori menjelaskan bahwa penurunan harga beras dunia lebih dipengaruhi oleh faktor produksi dan permintaan global.

Data dari Bank Dunia dan Index Mundi menunjukkan harga beras Thailand kualitas patahan 5 persen pada November 2025 tercatat US$ 368 per ton, turun 44 persen dari Januari 2024 yang mencapai US$ 660 per ton.

Khudori menambahkan, data dari FAO dan Bank Dunia menunjukkan bahwa harga beras patahan 5 persen di negara-negara eksportir terus menurun sepanjang 2025.

India, sebagai eksportir beras terbesar dengan pangsa sekitar 40 persen, juga beberapa kali membatasi ekspor beras, yang sempat memicu kenaikan harga di pasar dunia.

FAO memperkirakan produksi beras global 2024-2025 mencapai 549,9 juta ton, naik 14,7 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

USDA juga memprediksi peningkatan produksi beras global menjadi 541,3 juta ton, naik 17,3 juta ton dari tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi tertinggi terjadi di India (8,8 persen), diikuti Indonesia (3,3 persen), Thailand (4 persen), Brazil (20,8 persen), dan AS (2,8 persen).

Dengan peningkatan produksi ini, suplai beras global diperkirakan mencapai 749,1 juta ton, sementara permintaan sekitar 539,8 juta ton.

FAO mencatat, peningkatan volume permintaan beras sebesar 11,1 juta ton menjadi yang tertinggi dalam sejarah.

Khudori juga menyoroti bahwa Indonesia bukanlah importir beras terbesar dunia, melainkan berada di peringkat keempat setelah Cina, Uni Eropa, dan Filipina.

Meski demikian, ia mengakui bahwa impor beras Indonesia pada 2024 (4,519 juta ton) dan 2023 (3,062 juta ton) memang memengaruhi harga beras dunia.

Khudori mengingatkan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan produksi beras, karena prediksi surplus produksi tahun ini lebih disebabkan oleh penambahan luas panen, bukan peningkatan produktivitas.