Lubuk Basung – Semangat perjuangan Rasyid Bagindo Magek akhirnya kembali ke tanah kelahirannya di Sumatera Barat. Kepulangan simbolis sang tokoh sentral Perang Belasting 1908 ini ditandai dengan prosesi peletakan tanah dari makamnya di Manado ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Siti Manggopoh, Senin (15/6), bertepatan dengan peringatan 118 tahun Perang Manggopoh.
Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, memimpin langsung upacara khidmat tersebut dengan didampingi Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, serta jajaran Forkopimda. Tanah yang kini disemayamkan di TMP Siti Manggopoh itu sebelumnya dijemput oleh tim khusus yang terdiri dari anggota DPRD Sumatera Barat Ridwan Dt Tumbijo, pemerintah nagari se-Kecamatan Lubuk Basung, serta akademisi Universitas Negeri Padang pada pertengahan Mei lalu.
Bagi Vasko, kehadiran tanah makam tersebut menjadi pengingat abadi atas pengorbanan besar sang pejuang, meski jasadnya tidak dimakamkan di Ranah Minang. Ia menekankan bahwa Rasyid Bagindo Magek merupakan sosok kunci dalam Perang Manggopoh dan Perang Kamang.
“Peletakan tanah ini menjadi simbol bahwa semangat perjuangannya tetap hadir dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Sumatera Barat,” ungkap Vasko. Ia pun mendorong generasi muda agar tidak sekadar menjadikan peringatan ini sebagai rutinitas tahunan, melainkan menjadikannya motivasi untuk berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
Rasyid Bagindo Magek dikenal sebagai komandan pasukan rahasia yang merancang strategi perlawanan terhadap kebijakan pajak kolonial. Perlawanan gigihnya membuat pemerintah kolonial menjatuhkan hukuman pengasingan ke Manado, lokasi di mana ia akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, menilai momentum ini krusial untuk melengkapi narasi sejarah perjuangan di Manggopoh. Selama ini, publik cenderung lebih mengenal sosok Siti Manggopoh, padahal kemerdekaan merupakan hasil kolaborasi banyak tokoh.
“Kehadiran tanah makam beliau di TMP Siti Manggopoh menegaskan bahwa kemerdekaan lahir dari kerja sama dan pengorbanan kolektif. Pemerintah Kabupaten Agam berkomitmen terus melestarikan nilai-nilai sejarah ini sebagai fondasi pendidikan karakter bagi generasi penerus,” tutur Iqbal.
Rangkaian peringatan tersebut juga diisi dengan prosesi tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan. Di sisi lain, masyarakat Manggopoh saat ini tengah berupaya mengawal proses pengusulan Siti Manggopoh agar ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.






