Ranah

Peretas Manfaatkan Kode QR Berbasis Teks Tembus Keamanan Email

114
×

Peretas Manfaatkan Kode QR Berbasis Teks Tembus Keamanan Email

Sebarkan artikel ini
waspadalah!-kode-qr-berbahaya-menggunakan-simbol-teks
Waspadalah! Kode QR Berbahaya Menggunakan Simbol Teks

Jakarta – Ancaman siber kini berevolusi dengan memanfaatkan celah pada sistem keamanan email melalui penggunaan kode QR berbasis karakter teks atau grafik ASCII. Metode ini sengaja dirancang untuk mengecoh filter keamanan konvensional yang selama ini hanya fokus memindai file gambar atau tautan berbahaya.

Para peneliti keamanan siber dari Kaspersky menemukan bahwa pelaku kejahatan kembali mengadopsi teknik lama era 2000-an untuk menembus pertahanan modern. Dengan menyusun kode QR menggunakan karakter teks, penyerang mampu mengelabui sistem yang tidak dirancang untuk mendeteksi pola karakter sebagai kode akses.

Modus operandi ini biasanya menyasar target melalui email yang menyamar sebagai mitra bisnis. Pesan tersebut sering kali berisi instruksi mendesak untuk menandatangani dokumen rahasia melalui platform populer seperti DocuSign. Begitu korban memindai kode QR berbasis teks tersebut, mereka akan diarahkan ke situs web palsu yang dirancang khusus untuk mencuri kredensial perusahaan.

Pakar Anti-Spam Kaspersky, Roman Dedenok, menyoroti bahwa pergeseran taktik ini merupakan upaya sistematis untuk memanipulasi teknologi keamanan. “Sebelumnya, pelaku phishing menyembunyikan URL dalam gambar. Kini, mereka kembali ke teks untuk menampilkan kode QR guna menghindari pemindaian berbasis gambar,” jelas Dedenok.

Ia menekankan pentingnya kewaspadaan tinggi terhadap setiap permintaan pemindaian kode QR yang berujung pada pengisian data kredensial di perangkat seluler. “Ketika kode QR dibentuk menggunakan seni ASCII tekstual, hampir pasti itu adalah upaya phishing atau umpan ke URL berbahaya. Trik ini hanya memiliki satu tujuan: melewati teknologi keamanan,” tegasnya.

Temuan ini menjadi alarm bagi dunia bisnis mengingat serangan phishing berbasis kode QR tercatat melonjak hingga lima kali lipat sepanjang paruh kedua tahun 2025. Evolusi metode serangan yang semakin canggih ini menuntut peningkatan sistem pertahanan siber serta kehati-hatian ekstra dari para pengguna agar tidak terjebak dalam modus penipuan tersebut.