Jakarta – Setelah 139 tahun beroperasi, produsen makanan kaleng Del Monte Foods mengajukan perlindungan kebangkrutan di pengadilan New Jersey, Amerika Serikat, pada Selasa (1/7/2025) malam. Langkah ini diambil di tengah tren peningkatan pengajuan kebangkrutan perusahaan besar di AS.
Menurut laporan Aljazeera, keputusan ini dipicu oleh perubahan preferensi konsumen Amerika Serikat yang beralih ke produk yang lebih sehat atau lebih murah, menyebabkan penurunan penjualan. Sebelum mengajukan kepailitan, Del Monte Foods telah memperoleh pembiayaan sebesar US$ 912,5 juta atau sekitar Rp 14,6 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS) untuk menjaga kelangsungan operasional.
CEO Del Monte Foods, Greg Longstreet, menyatakan bahwa keputusan ini merupakan hasil evaluasi menyeluruh terhadap semua opsi yang tersedia. “Setelah evaluasi menyeluruh terhadap semua opsi yang tersedia, kami memutuskan bahwa proses penjualan yang diawasi pengadilan adalah cara paling efektif untuk mempercepat pemulihan dan menciptakan Del Monte Foods yang lebih kuat dan bertahan lama,” kata Longstreet dalam pernyataan resminya pada Selasa (1/7/2025).
Del Monte Foods menjelaskan bahwa mereka adalah anak usaha tidak langsung dari Del Monte Pacific yang berbasis di Singapura sejak 2014. Del Monte Pacific terdaftar di bursa saham Singapura dan Filipina. Perusahaan ini menegaskan tidak memiliki afiliasi dengan perusahaan lain yang memakai nama serupa, seperti Fresh Del Monte Produce, Del Monte Canada, Del Monte Asia, Conagra/Productos Del Monte, atau Del Monte Panamerican.
NutriAsia Pacific dan Bluebell Group Holdings menguasai 71 persen saham Del Monte Pacific. Kedua perusahaan tersebut dimiliki oleh keluarga Campos dari Filipina. NutriAsia dikenal sebagai pemimpin pasar di Filipina untuk produk bumbu cair, saus, dan minyak goreng.
Forbes mencatat, keluarga Campos terdiri dari Jocelyn, Joselito, dan Jeffrey Campos. Mereka mewarisi kekayaan Unilab, perusahaan farmasi yang didirikan Jose Campos dan Mariano Tan pada 1945. Saat ini, Unilab memproduksi lebih dari 350 merek obat resep dan bebas.
Clinton, putra Jocelyn, memimpin Unilab dan Greenfield Development, perusahaan real estat keluarga. Joselito menjalankan Del Monte Pacific. Hingga 7 Agustus 2024, Forbes memperkirakan kekayaan keluarga Campos mencapai US$ 940 juta atau sekitar Rp 15 triliun, menempatkan mereka di posisi ke-18 dalam daftar orang terkaya di Filipina.
Del Monte Foods memproduksi, mendistribusikan, dan memasarkan produk makanan berbasis tanaman. Portofolionya mencakup merek-merek seperti Del Monte, Contadina, College Inn, Kitchen Basics, JOYBA, Take Root Organics, dan S&W.
Britannica mencatat sejarah Del Monte bermula pada 1899 saat 11 pabrik pengalengan di California membentuk California Fruit Canners Association. Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi California Packing Corporation (Calpak) pada 1916 dan mulai menggunakan merek Del Monte.
Del Monte menjadi Del Monte Corporation pada 1967 dan berpindah tangan ke RJ Reynolds Industries (yang kemudian menjadi RJR Nabisco) pada 1979. Saat itu, Del Monte mengelola bisnis makanan kemasan dan produk segar.
Pada 1989, Del Monte memisahkan divisi produk segar menjadi Del Monte Fresh Produce. Perusahaan ini berganti nama menjadi Fresh Del Monte Produce pada 1993 dan beroperasi di luar naungan Del Monte Foods meskipun tetap memakai nama Del Monte dengan lisensi.
Setelah dijual ke investor swasta pada 1989, Del Monte Foods kembali mencatatkan saham publik pada 1999. Selama dua dekade berikutnya, perusahaan menjalani sejumlah akuisisi dan divestasi, termasuk mengakuisisi lini produk Heinz seperti 9Lives, StarKist, dan College Inn pada 2002, menjual StarKist ke Dongwon Industries asal Korea Selatan pada 2008, diakuisisi perusahaan ekuitas swasta KKR dalam transaksi senilai US$ 5,3 miliar pada 2011, dan menjual divisi makanan konsumen ke Del Monte Pacific serta memisahkan divisi makanan hewan peliharaan menjadi Big Heart Pet Brands, yang kemudian diakuisisi The JM Smucker Company pada 2014.
Selain Del Monte, pada tahun 2025, terdapat sekitar 286 perusahaan besar asal Amerika Serikat yang mengajukan kepailitan. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 15 tahun terakhir dan menunjukkan tren peningkatan tekanan keuangan pada perusahaan-perusahaan besar di AS.
Berdasarkan informasi di sejumlah sumber, jumlah pengajuan kebangkrutan kuartal pertama 2025 mencapai 188 perusahaan. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan 139 perusahaan pada kuartal pertama 2024, dan merupakan yang tertinggi sejak 254 perusahaan pada kuartal pertama 2010 pasca krisis keuangan besar.
Sepanjang 2025, diperkirakan total pengajuan kebangkrutan bisnis akan meningkat sekitar 14,7 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan total kasus bisnis mencapai lebih dari 23.000 dalam 12 bulan terakhir hingga Maret 2025.
Sektor industri yang paling banyak mengalami kebangkrutan adalah sektor industri berat (41 kasus), diikuti consumer discretionary atau sektor barang dan jasa konsumsi non-pokok (31 kasus), dan sektor kesehatan (17 kasus). Sektor konsumer discretionary paling terdampak karena volatilitas pasar, tarif perdagangan, dan ketidakpastian inflasi.
Laporan resmi dari lembaga administrasi peradilan AS menunjukkan lonjakan pengajuan kebangkrutan sebesar 13,1 persen selama periode 12 bulan yang berakhir pada 31 Maret 2025. Meski tren ini menunjukkan peningkatan tekanan finansial, jumlah kasus masih jauh lebih rendah dibanding masa krisis keuangan global 2007-2008.
Menurut laporan yang dirilis Administrative Office of the U.S. Courts, total pengajuan bangkrut mencapai 529.080 kasus, naik dari 467.774 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan serupa juga terlihat dalam laporan kuartal sebelumnya, Desember 2024.
Pengajuan dari kalangan bisnis naik 14,7 persen, dari 20.316 menjadi 23.309 kasus. Sementara itu, pengajuan dari non-bisnis, termasuk individu dan rumah tangga, naik 13 persen, dari 447.458 menjadi 505.771 kasus.






