Ranah

Pertamina Patra Niaga Salurkan Bahan Bakar SAF Produksi Dalam Negeri

173
×

Pertamina Patra Niaga Salurkan Bahan Bakar SAF Produksi Dalam Negeri

Sebarkan artikel ini
pertamina-patra-niaga-salurkan-bahan-bakar-saf-produksi-dalam-negeri
Pertamina Patra Niaga Salurkan Bahan Bakar SAF Produksi Dalam Negeri

Jakarta – Penerbangan komersial perdana rute Jakarta-Bali oleh Pelita Air pada Rabu (20/8/2025) menandai era baru bagi industri penerbangan Indonesia. Pasalnya, penerbangan tersebut menggunakan bahan bakar ramah lingkungan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang diproduksi dari minyak jelantah.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyampaikan apresiasi pemerintah atas keberhasilan penerbangan perdana yang didukung oleh penyaluran Pertamina SAF.

Mars Ega menjelaskan, keberhasilan penerbangan yang lepas landas dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, tersebut tidak lepas dari peran Pertamina Patra Niaga dalam memastikan kelancaran distribusi SAF. “Kami memastikan distribusi Pertamina SAF berjalan dengan baik sehingga penerbangan perdana ini dapat terlaksana dengan lancar,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (21/8/2025).

Selain berperan dalam pendistribusian, Pertamina Patra Niaga juga terlibat dalam penyediaan bahan baku utama SAF, yaitu minyak jelantah yang dikumpulkan dari masyarakat. Mars Ega menambahkan, bahan baku SAF berasal dari minyak jelantah yang dikumpulkan dari berbagai sumber. “Lebih dari itu, bahan baku SAF berasal dari minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat, mulai dari restoran, rumah tangga, hingga usaha kecil. Dengan cara ini, pengembangan ekosistem Pertamina SAF tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” imbuhnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno, dalam sambutannya, menyatakan bahwa Pertamina SAF bukan hanya sekadar aspek teknis, melainkan juga instrumen strategis dalam geopolitik dan diplomasi energi Indonesia di tingkat global. Havas menekankan pentingnya peran Pertamina Group sebagai pelopor. “Pertamina Group harus menjadi pelopor. Seharusnya kita sebagai negara yang mampu, yang pertama dan satu-satunya di ASEAN yang membuat SAF sendiri bisa memiliki hak dalam konteks riset, pemasaran, dan kebijakan. Indonesia itu punya aset untuk menjadi pemimpin di kawasan global,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menambahkan bahwa pengembangan SAF sejalan dengan arahan Presiden RI dalam mewujudkan Astacita di bidang ketahanan dan kemandirian energi. Dadan mengatakan, Pertamina SAF telah memenuhi standar keberlanjutan global. “Ini adalah program Astacita yang harus terus kita laksanakan, yaitu ketahanan energi, dan untuk yang ini tidak hanya ketahanan energinya, tapi juga swasembadanya, jadi kemandiriannya juga semakin kuat. Pertamina SAF telah naik kelas karena memiliki sertifikasi keberlanjutan yang diakui global,” katanya.

Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Odo RM Manuhutu, menyampaikan harapannya agar Indonesia dapat menjadi pusat ekosistem SAF. “Momentum ini menunjukkan komitmen nyata Indonesia dalam dekarbonisasi sektor aviasi. Kita memenuhi komitmen NZE di sektor aviasi pada 2050 dan peta jalan SAF ini adalah salah satu upaya kita mencapainya. Harapannya, nanti Indonesia bukan hanya pengguna, tapi juga pusat inovasi. Tujuannya, menjadikan Indonesia benar-benar pusat, Indonesia harus menjadi nomor satu paling tidak di Asia Tenggara,” ucap Odo.

Peluncuran penerbangan perdana Pertamina SAF dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara dan direksi Pertamina Group, termasuk Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia Letjen TNI (Purn) AM Putranto, Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan Kementerian Sekretariat Negara Yuli Harsono, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F Laisa, serta Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri. Langkah ini sejalan dengan komitmen PT Pertamina Patra Niaga dalam mendukung target nol emisi karbon (Net Zero Emission/NZE) pada 2060.