EkonomiRanah

Rumah Tapak Jabodetabek: Penjualan Terus Meningkat di 2025

194
×

Rumah Tapak Jabodetabek: Penjualan Terus Meningkat di 2025

Sebarkan artikel ini
penjualan-rumah-tapak-mulai-dari-rp-600-juta-laris-pada-2025
Penjualan Rumah Tapak Mulai dari Rp 600 Juta Laris pada 2025

Jakarta – Pasar properti residensial di Jabodetabek menunjukkan geliat positif. Rumah dengan harga Rp 600 juta hingga Rp 1,3 miliar menjadi incaran utama konsumen pada semester II 2025.

Data dari Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia menunjukkan, penjualan rumah dengan rentang harga tersebut mendominasi pasar hingga 48 persen.

Senior Director Strategic Consulting JLL, Milda Abidin, mengungkapkan, pasar rumah tapak menunjukkan performa stabil dengan keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

“Keterjangkauan harga menjadi daya tarik utama,” kata Milda dalam keterangan resminya, Kamis (12/2/2026).

Pertumbuhan penyerapan tertinggi tercatat pada segmen menengah ke bawah, disusul oleh segmen menengah.

Setelah rumah dengan harga Rp 600 juta hingga Rp 1,3 miliar, hunian di bawah Rp 600 juta menyusul dengan kontribusi 27 persen dari total penjualan.

Sementara itu, rumah dengan harga Rp 1,3 miliar hingga Rp 2 miliar berkontribusi 12 persen, Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar sebesar 8 persen, dan di atas Rp 3 miliar sebesar 5 persen.

Selama semester II 2025, tercatat 3.800 unit baru diluncurkan dengan permintaan mencapai 3.700 unit. Tingkat penjualan pada periode tersebut mencapai 88 persen.

Milda menambahkan, dukungan pemerintah melalui perpanjangan insentif keringanan pajak turut meningkatkan daya beli konsumen.

“Pasar perumahan tapak Jabodetabek diprediksi terus berkembang, didorong oleh pembangunan infrastruktur dan kemudahan akses transportasi,” jelasnya.

Senior Director of Capital Markets JLL Indonesia, Herully Suherman, menyoroti pentingnya akses transportasi dalam pengembangan perumahan.

Menurutnya, pengembang akan mempertimbangkan akses transportasi, baik pribadi maupun umum, sebagai faktor kunci.

“Kenyamanan menjadi salah satu faktor untuk meningkatkan strategi pengembangan mereka,” kata Herully.

JLL mencatat, kondisi pasar pendukung membaik seiring dengan penurunan suku bunga acuan dari 5,25 persen pada Juli menjadi 4,75 persen pada November 2025. Insentif pemerintah dinilai menguntungkan pembeli melalui pembiayaan bersubsidi dan pengurangan biaya transaksi.