Jakarta – Komisi XI DPR RI memberikan perhatian khusus terhadap peran Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan pentingnya nilai tukar yang moderat sebagai cerminan kekuatan ekonomi Indonesia.
“Menjaga stabilitas bukan pekerjaan mudah, tetapi ekonomi Indonesia sangat stabil,” ujar Misbakhun, Kamis (22/1/2026).
Misbakhun meyakini fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi yang kokoh.
Pertumbuhan ekonomi berada pada tren stabil di kisaran 4,8-5 persen secara tahunan, dengan inflasi yang terkendali.
Cadangan devisa Indonesia juga menunjukkan kekuatan, didukung oleh surplus transaksi berjalan dan neraca perdagangan yang positif.
“Fundamental kita kuat. Yang terjadi adalah sentimen yang harus diperkuat kepada pasar,” tegas Misbakhun.
Menanggapi pelemahan rupiah yang terjadi baru-baru ini, Misbakhun berpendapat bahwa hal tersebut tidak terkait dengan pergantian Deputi Gubernur BI.
Sebelumnya, pada 20 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat Rp 16.945 per dolar AS, mengalami pelemahan sebesar 1,53 persen dibandingkan akhir Desember 2025.
Asumsi makro APBN 2026 mencatat nilai tukar rupiah di posisi Rp 16.500 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh aliran modal asing keluar akibat ketidakpastian pasar keuangan global, serta peningkatan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik.
BI sendiri telah melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah.
Bank sentral memproyeksikan rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV 2025 diperkirakan tetap baik, ditopang oleh surplus neraca perdagangan.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS.






