EkonomiRanah

Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Berpotensi Melonjak

217
×

Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Berpotensi Melonjak

Share this article
harga-minyak-mentah-diprediksi-capai-usd-100-per-barel
Harga Minyak Mentah Diprediksi Capai USD 100 per Barel

Jakarta – Harga minyak mentah dunia diprediksi meroket hingga menembus US$ 100 per barel pada pekan ini. Bahkan, minyak mentah Brent diperkirakan dapat mencapai US$ 150 per barel.

Proyeksi tersebut disampaikan oleh Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, Minggu (8/3/2026).

Lonjakan harga minyak ini dipicu oleh potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang dapat mengganggu pasokan minyak global.

Ibrahim menjelaskan, penutupan Selat Hormuz akan menekan pasokan minyak dunia.

“Walaupun Amerika sendiri pun juga sudah mengintrusikan kemungkinan besar akan mencabut sanksi ekonomi yang diberikan terhadap Iran supaya aliran minyak mentah kembali normal,” ujarnya.

Selain harga minyak, Ibrahim juga memperkirakan inflasi akan meningkat, terutama di sektor logistik dan transportasi.

Kenaikan harga emas dunia juga diprediksi terjadi dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia dapat mencapai US$ 5.395 per troy ounce pada pekan depan, sementara harga logam mulia diperkirakan naik menjadi Rp 3.150.000 per gram.

“Kalau seandainya harga emas dunia turun, di support kedua US$ 4.959 dan kemungkinan besar logam mulia di Rp 2.900.000 per gram,” imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah telah mengantisipasi skenario jika harga minyak dunia mencapai US$ 92 per barel.

Menurut Purbaya, defisit APBN 2026 berpotensi melebihi 3 persen jika harga minyak dunia bertahan di level US$ 92 per barel selama setahun.

“Kami sudah exercise kalau harganya US$ 92 dolar selama setahun rata-rata, kan APBN setahun, setahun maka defisitnya jadi 3,6 persen lebih,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Namun, pelebaran defisit ini dapat dihindari dengan penghematan di pos-pos belanja yang tidak efisien.

Purbaya menambahkan, Indonesia pernah mengalami kondisi serupa saat harga minyak dunia menembus US$ 150 per barel, namun tidak sampai mengalami krisis.