Ranah

Warga Binaan Lapas Pangkalpinang Produksi Pupuk dari Limbah FABA

138
×

Warga Binaan Lapas Pangkalpinang Produksi Pupuk dari Limbah FABA

Sebarkan artikel ini
napi-lapas-pangkalpinang-produksi-kompos-limbah-batu-bara
Napi Lapas Pangkalpinang Produksi Kompos Limbah Batu Bara

Pangkalpinang – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tua Tunu, Pangkalpinang, berhasil mengolah limbah pembakaran batu bara atau Fly Ash Bottom Ash (FABA) menjadi pupuk kompos bernilai ekonomis. Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Lapas Tua Tunu dengan PT PLN Nusantara Power Services PLTU 3 Bangka.

Kepala Lapas Tua Tunu Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, mengatakan bahwa saat ini para WBP yang telah memenuhi syarat asimilasi mampu memproduksi 6 ton pupuk kompos setiap dua pekan. Meski masih dikerjakan secara manual, pihaknya telah mengantongi dukungan dari pemerintah daerah untuk pengembangan kapasitas produksi ke depan.

“Kapasitas produksi saat ini masih terbatas karena dikerjakan secara manual. Namun, kami telah mendapatkan dukungan dari Gubernur dan pemerintah daerah untuk pengembangan lebih lanjut,” ujar Sugeng usai kegiatan peluncuran pengiriman kompos, Kamis (26/3/2026).

Sugeng menjelaskan, pihaknya menerima pasokan bahan baku FABA secara gratis dari PLN. Ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi modal utama bagi Lapas untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi melalui sinergi berkelanjutan.

Efektivitas pupuk kompos berbahan FABA ini telah teruji melalui Demonstration Plot (Demplot) di lapangan. Hasil uji coba pada perkebunan sawit menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap hasil panen.

Tingginya permintaan pasar membuat pihak Lapas kini tengah memproses pesanan sebanyak 6 ton dari Kotawaringin. Ke depan, penggunaan pupuk ini akan diperluas untuk komoditas durian dan alpukat.

Sementara itu, Manajer Unit PLTU Bangka PT PLN Nusantara Power Services, I Gusti Ngurah Putra Astawa, mengungkapkan bahwa PLTU Bangka memproduksi 65 ton limbah FABA per hari dengan total stok mencapai 39 ribu ton. Pemanfaatan limbah ini krusial untuk memenuhi regulasi Kementerian Lingkungan Hidup terkait pengelolaan limbah.

“FABA berfungsi menetralkan derajat keasaman (pH) tanah di Bangka yang cenderung rendah sebelum lahan digunakan untuk perkebunan,” jelas Astawa.

Selain sebagai campuran pupuk, limbah FABA juga dimanfaatkan untuk material konstruksi seperti batako pengganti

Pangkalpinang – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Tua Tunu, Pangkalpinang, berhasil menyulap limbah pembakaran batu bara atau Fly Ash Bottom Ash (FABA) menjadi pupuk kompos bernilai ekonomis. Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara pihak Lapas dengan PT PLN Nusantara Power Services PLTU 3 Bangka.

Kepala Lapas Tua Tunu Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, mengatakan bahwa saat ini produksi kompos dilakukan secara manual oleh WBP yang telah memenuhi syarat asimilasi ketat. Dalam kurun waktu dua pekan, para WBP mampu menghasilkan 6 ton pupuk kompos.

“Kapasitas produksi saat ini masih terbatas karena dikerjakan secara manual. Namun, kami telah mendapatkan dukungan dari Gubernur dan pemerintah daerah untuk pengembangan lebih lanjut,” ujar Sugeng usai kegiatan peluncuran pengiriman kompos, Kamis (26/3/2026).

Sugeng menjelaskan, pihaknya menerima pasokan bahan baku FABA dari PLN secara gratis. Ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi modal utama bagi Lapas untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi di masa depan melalui sinergi dengan berbagai pihak.

Efektivitas pupuk kompos berbahan FABA ini telah teruji melalui Demonstration Plot (Demplot) di lapangan. Hasil uji coba pada perkebunan sawit menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan hasil panen.

“Permintaan petani cukup tinggi hingga kami sempat kewalahan. Saat ini, terdapat permintaan sebanyak 6 ton dari Kotawaringin yang masih dalam proses pemenuhan. Ke depan, kami berencana memperluas penggunaan pupuk ini untuk komoditas durian dan alpukat,” tambahnya.

Sementara itu, Manajer Unit PLTU Bangka PT PLN Nusantara Power Services, I Gusti Ngurah Putra Astawa, mengungkapkan bahwa PLTU Bangka memproduksi 65 ton limbah FABA per hari dengan total stok mencapai 39 ribu ton. Pemanfaatan limbah ini krusial untuk memenuhi regulasi Kementerian Lingkungan Hidup yang mewajibkan pengelolaan limbah dalam kurun waktu tiga tahun.

“FABA berfungsi menetralkan derajat keasaman (pH) tanah di Bangka yang cenderung rendah sebelum lahan digunakan untuk perkebunan,” jelas Astawa.

Selain sebagai campuran pupuk, limbah FABA juga dimanfaatkan untuk material konstruksi seperti batako pengganti semen, tanah uruk, hingga pembuatan terumbu karang buatan atau rumpon di perairan sekitar Pulau Bangka.