EkonomiRanah

Emas Berjuang Naik, Sentimen Global Jadi Penentu

507
×

Emas Berjuang Naik, Sentimen Global Jadi Penentu

Sebarkan artikel ini
harga-emas-dunia-berpotensi-menguat-sebelum-tutup-tahun
Harga Emas Dunia Berpotensi Menguat Sebelum Tutup Tahun

Jakarta – Harga emas diprediksi akan mengalami penguatan terbatas pada perdagangan hari ini, Rabu (31/12/2025). Sentimen ini datang dari seorang analis pasar.

Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menyampaikan proyeksi tersebut.

Menurut Andy, harga emas berpotensi menguji level resistensi di sekitar US$ 4.403 per troy ounce jika tekanan beli mendominasi pasar.

Namun, ia mengingatkan, jika penguatan tidak terjadi, harga emas berpotensi turun menuju level support di sekitar US$ 4.308 per troy ounce.

Sebelumnya, harga emas sempat menguat ke level US$ 4.350 pada awal perdagangan Eropa, Selasa (30/12/2025), setelah mengalami penurunan sekitar 4,5 persen.

Andy menjelaskan, pergerakan harga emas saat ini masih menunjukkan adanya tekanan lanjutan, terdepresiasi lebih dari 4 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa di level $4.555.

Tekanan jual ini dipicu oleh keputusan Chicago Mercantile Exchange (CME) Group yang menaikkan persyaratan margin untuk kontrak berjangka emas dan perak.

Keputusan CME Group ini mendorong aksi ambil untung besar-besaran serta penyesuaian portofolio oleh pelaku pasar, terutama di tengah kondisi likuiditas yang menipis menjelang libur tahun baru.

Meski demikian, harga emas mulai mencoba bangkit dan bertahan di atas level US$ 4.300, didorong oleh meningkatnya permintaan aset aman di tengah memburuknya sentimen global.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Rusia, pada awal pekan ini, mengumumkan akan meninjau kembali sikapnya terhadap pembicaraan damai dengan Ukraina, menyusul tuduhan serangan pesawat tak berawak terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin.

Meskipun klaim tersebut dibantah oleh Ukraina, ketegangan ini tetap meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik.

Pelaku pasar kini juga menantikan rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dari Federal Reserve AS.

Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar Amerika dan harga emas.

Andy menilai, meskipun volatilitas jangka pendek masih tinggi dan volume perdagangan diperkirakan tetap tipis, potensi penurunan emas relatif terbatas.

Prospek penurunan suku bunga The Fed pada 2026 dan ketidakpastian ekonomi global yang berkelanjutan masih menjadi faktor pendukung harga emas.