RanahTeknologi

Meta Laporkan Kerugian Reality Labs pada Kuartal Pertama 2026

168
×

Meta Laporkan Kerugian Reality Labs pada Kuartal Pertama 2026

Sebarkan artikel ini
mark-zuckerberg-rugi-rp68-triliun-dari-metaverse,-ini-yang-terjadi-di-meta
Mark Zuckerberg Rugi Rp68 Triliun dari Metaverse, Ini yang Terjadi di Meta

Jakarta – Meta Platforms kembali menanggung kerugian besar dari divisi metaverse, Reality Labs, pada kuartal pertama 2026. Di saat perusahaan mengalihkan fokus ke kecerdasan buatan (AI), proyek dunia virtual itu belum juga menunjukkan tanda-tanda menghasilkan keuntungan.

Dalam laporan keuangan terbarunya yang dikutip CNBC pada Kamis, 30 April 2026, Meta menyebut Reality Labs membukukan rugi operasional sebesar US$4,03 miliar atau sekitar Rp68,51 triliun dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS. Pendapatan divisi tersebut hanya US$402 juta atau sekitar Rp6,83 triliun.

Hasil itu memang melampaui ekspektasi Wall Street yang memperkirakan kerugian lebih dalam, yakni US$4,82 miliar, dengan pendapatan US$488,8 juta. Meski begitu, jarak yang lebar antara pendapatan dan kerugian kembali menegaskan bahwa bisnis metaverse Meta belum kunjung menguntungkan.

Sejak akhir 2020, Reality Labs telah mengakumulasi kerugian operasional lebih dari US$80 miliar atau sekitar Rp1.360 triliun. Beban itu menjadikannya salah satu investasi termahal dalam sejarah industri teknologi.

Meta pertama kali menempatkan metaverse sebagai poros masa depan ketika pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, mengganti nama perusahaan menjadi Meta pada 2021. Langkah itu mencerminkan keyakinannya bahwa interaksi manusia akan bergeser ke dunia virtual.

Arah tersebut kemudian berubah setelah ledakan teknologi AI generatif menyusul kemunculan ChatGPT pada akhir 2022. Sejak saat itu, Meta dinilai tertinggal dari OpenAI, Anthropic, dan Google dalam persaingan AI.

Untuk mengejar ketertinggalan, Meta menambah investasi besar pada infrastruktur AI, pengembangan model baru, dan layanan berbasis kecerdasan buatan. Di sisi lain, divisi Reality Labs justru ikut mengalami pengetatan.

Sebagai bagian dari strategi efisiensi, Meta memutuskan hubungan kerja terhadap sekitar 1.000 karyawan Reality Labs pada Januari 2026. Kebijakan itu diambil untuk mengalihkan sumber daya dari proyek virtual reality (VR) ke perangkat wearable berbasis AI.

Langkah tersebut juga dipengaruhi keberhasilan tak terduga kacamata pintar Ray-Ban Meta yang dikembangkan bersama EssilorLuxottica. Produk itu dinilai memiliki prospek pasar lebih besar dibandingkan perangkat VR tradisional.

Meta kemudian kembali melanjutkan pemangkasan tenaga kerja pada Maret 2026. Gelombang PHK itu berdampak pada ratusan karyawan di berbagai divisi, termasuk Reality Labs, Facebook, operasional global, rekrutmen, dan penjualan.