Ranah

BI Intervensi, Optimistis Rupiah Menguat Sesuai Fundamental

251
×

BI Intervensi, Optimistis Rupiah Menguat Sesuai Fundamental

Sebarkan artikel ini
bi-menilai-nilai-tukar-rupiah-masih-undervalued
BI Menilai Nilai Tukar Rupiah Masih Undervalued

Jakarta – Bank Indonesia (BI) meningkatkan intervensi di pasar valuta asing (valas) untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah yang dinilai masih undervalued. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan yang disebabkan oleh faktor teknikal dan premi risiko global.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan Rupiah memiliki potensi untuk menguat, didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang solid.

“Investasi portofolio asing terus masuk, sudah ada net flow dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (19/2/2026).

Intervensi BI dilakukan melalui pasar Non-Delivarable Forward (NDF) luar negeri, transaksi spot, dan Domestic NDF (DNDF) di pasar dalam negeri.

Selain intervensi, BI juga mengandalkan investasi portofolio asing melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga stabilitas Rupiah.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menambahkan BI terus memperdalam pasar valuta asing untuk kurs Yuan (CNY) melalui skema local currency transaction (LCT) dalam transaksi perdagangan dengan Cina.

Destry mengungkapkan, berdasarkan data settlement 18 Februari 2026, aliran modal asing yang masuk di SRBI dan SBN masing-masing mencapai Rp 31 triliun dan Rp 530 miliar.

“Inflow ini terus meningkat sehingga overall year-to-date itu sudah mencapai sekitar US$ 1,6 juta untuk inflow. Dan ini sangat membantu sekali untuk stabilitas dari rupiah itu sendiri,” pungkas Destry.

Sebagai informasi, pada Rabu (18/2/2026), nilai tukar Rupiah berada di level Rp 16.880 per dolar Amerika Serikat, melemah 0,56 persen dibandingkan level akhir Januari 2026.