Ranah

BI Tegaskan Stabilitas Ekonomi di Tengah Risiko Global

69
×

BI Tegaskan Stabilitas Ekonomi di Tengah Risiko Global

Sebarkan artikel ini
gubernur-bi:-imf-memandang-ekonomi-global-tetap-resilien
Gubernur BI: IMF Memandang Ekonomi Global Tetap Resilien

Washington D.C. – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menilai perekonomian global masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian yang semakin kompleks akibat perang di Timur Tengah.

Pandangan itu mengemuka dalam IMF-World Bank Spring Meetings di Washington D.C., Amerika Serikat, pada 16-17 April 2026. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, para anggota IMF mendorong langkah bersama agar ketidakpastian global bisa dihadapi tanpa menghambat manfaat transformasi ekonomi bagi pertumbuhan dunia.

“Negara-negara anggota IMF mendorong langkah bersama untuk menghadapi ketidakpastian global, sekaligus memastikan transformasi ekonomi bermanfaat bagi pertumbuhan dunia,” kata Perry dalam keterangan resmi, Sabtu, 18 April 2026.

Perry menjelaskan, IMF juga menyoroti perubahan besar di bidang teknologi, demografi, dan lingkungan. Menurut dia, perubahan itu memunculkan tantangan sekaligus peluang baru bagi perekonomian dunia.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah artificial intelligence atau akal imitasi (AI). Teknologi ini dinilai mampu mendorong produktivitas dan kesejahteraan, tetapi pada saat yang sama berpotensi memicu disrupsi di berbagai sektor seiring pesatnya perkembangan teknologi tersebut.

Di sisi lain, Perry menegaskan Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

“Komitmen ini dilakukan melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik, serta pengelolaan likuiditas yang hati-hati agar tetap mendukung pertumbuhan,” ucapnya.

Sementara itu, Chairman International Monetary and Financial Committee (IMFC) Mohammed Aljadaan menilai dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah akan sangat ditentukan oleh durasi, intensitas, dan perluasan geografis konflik tersebut. Ia juga menyebut negara-negara termiskin dan paling rentan sebagai pihak yang paling terpapar.

“Jika berkepanjangan, hal ini dapat membuat harga bahan bakar dan pupuk tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama, mengganggu pasokan input utama, dan memperbesar risiko terhadap keamanan energi dan pangan, pertumbuhan global, inflasi, dan neraca sektor eksternal,” kata Aljadaan dalam keterangan resmi, Jumat, 17 April 2026.

Menteri Keuangan Arab Saudi itu menambahkan, bank-bank sentral tetap memegang komitmen untuk menjaga stabilitas harga sesuai mandat masing-masing.