Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mengoptimalkan pemantauan aktivitas Matahari melalui sistem berbasis kecerdasan buatan, Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI). Teknologi ini dikembangkan untuk memangkas durasi prediksi cuaca antariksa yang sebelumnya memakan waktu lama serta meminimalisir subjektivitas interpretasi antarpeneliti.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, mengungkapkan bahwa sistem yang mengadopsi kerangka kerja Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS) ini beroperasi secara otomatis. SWx AI berfungsi layaknya asisten digital yang mampu memproses data numerik, hasil prediksi komputer, hingga citra Matahari tanpa memerlukan intervensi manual yang rumit.
Guna menjamin akurasi dan mencegah risiko “halusinasi AI”, sistem ini menerapkan batasan ketat pada data yang dianalisis. “Sistem ini dirancang agar lebih aman dari kesalahan informasi atau ‘halusinasi AI’ dengan membatasi data yang dianalisis hanya pada rentang waktu tertentu, misalnya 24 hingga 72 jam terakhir, serta menggunakan aturan yang sudah ditetapkan untuk menelaah kondisi antariksa di Indonesia,” jelas Tiar.
Integrasi teknologi large language model (LLM) dalam SWx AI memungkinkan sistem menarik data terkini dari berbagai sumber secara efisien. Pendekatan ini ditempuh untuk memastikan hasil prediksi cuaca antariksa memiliki tingkat konsistensi dan presisi yang lebih tinggi.
Langkah mitigasi ini menjadi krusial mengingat cuaca antariksa memiliki dampak nyata terhadap infrastruktur vital di Bumi. Gangguan aktivitas Matahari berpotensi mengganggu kinerja satelit, sistem komunikasi, navigasi GPS, hingga stabilitas jaringan listrik nasional. Melalui kehadiran SWx AI, BRIN menargetkan respons yang lebih cepat dan akurat dalam menghadapi ancaman cuaca antariksa.






