Bukittinggi – Dentuman meriam bambu atau mariam batuang di Lapangan Wirabraja, Kantin, menandai pembukaan Alek Anak Nagari Kota Bukittinggi, Sabtu (16/5/2026). Hajatan budaya yang melibatkan 82 sekolah ini digelar untuk memperingati satu abad Jam Gadang sekaligus menyedot perhatian warga, pelajar, tokoh adat, bundo kanduang, dan wisatawan.
Lapangan Kantin hari itu berubah menjadi ruang temu lintas generasi. Tradisi permainan rakyat Kurai dan Minangkabau yang semakin jarang dijumpai dihidupkan kembali lewat lomba lore, tarompa sayak, tangkelek, enggrang, dan congklak.
Selain menonjolkan permainan tradisional, kegiatan ini juga mengangkat kuliner adat yang lekat dengan identitas Nagari Kurai Lima Jorong. Para gadih Minang menampilkan kemampuan mengolah hidangan khas seperti godok inti dan anyang Kurai, yang selama ini menjadi bagian dari prosesi adat setempat.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menilai upaya tersebut sebagai langkah nyata yang layak terus dijaga. “Ini adalah langkah konkret yang sangat positif. Kalau bukan kita yang menggalakkan dan menjaga tradisi ini, siapa lagi,” ujarnya usai membuka acara secara resmi.
Ketua pelaksana Dedi Fatria menegaskan, keberlanjutan menjadi kunci agar warisan leluhur tidak hilang dimakan waktu. “Ini adalah pelaksanaan yang kesekian kalinya. Lomba permainan tradisional sudah dua kali, sementara lomba kuliner gadih Minang sudah memasuki tahun ketiga. Kami ingin memastikan warisan leluhur ini tidak tergerus zaman,” katanya.
Dedi menyampaikan antusiasme masyarakat menjadi alasan kuat untuk terus menggelar kegiatan serupa. Dukungan itu pula yang membuat Mahyeldi menargetkan Alek Anak Nagari dapat dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota di Ranah Minang. “Tahun 2027 kita harapkan seluruh kabupaten dan kota bisa melaksanakannya, dan pada tahun 2028 akan kita angkat menjadi agenda resmi di tingkat provinsi,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis menegaskan pemerintah kota akan memasukkan kegiatan itu ke dalam kalender wisata tahunan. Ia menilai kaitan historis Alek Anak Nagari dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang menjadi nilai tambah bagi pariwisata daerah. “Alek Anak Nagari ini melekat erat dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang. Ke depan, ini bukan sekadar pelestarian budaya Kurai, tapi juga motor penggerak pariwisata Bukittinggi,” ucapnya.






