EkonomiRanah

Inflasi Sumbar Lampaui Target, Bencana dan Kemarau Memicu

286
×

Inflasi Sumbar Lampaui Target, Bencana dan Kemarau Memicu

Sebarkan artikel ini
bencana-hidrometeorologi-dorong-inflasi-sumbar-di-atas-rentang-sasaran
Bencana Hidrometeorologi Dorong Inflasi Sumbar di Atas Rentang Sasaran

Padang – Inflasi Sumatera Barat (Sumbar) diprediksi melampaui target pada 2025. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, bencana hidrometeorologi menjadi salah satu pemicu utama.

Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, menyampaikan proyeksi ini dalam media briefing di Padang Old Town, Senin (5/1).

Ikram menjelaskan, inflasi Sumbar hingga November 2025 mencapai 3,62% (ytd). Angka ini melampaui target inflasi yang ditetapkan sebesar 2,5±1%.

Selain bencana hidrometeorologi, musim kemarau panjang pada Juni-September turut memicu inflasi.

Lebih lanjut, Ikram memaparkan, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada triwulan III 2025 tercatat melambat menjadi 3,36% (yoy). Pada triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi mencapai 3,94% (yoy).

Penurunan investasi, terbatasnya belanja pemerintah, dan penurunan kinerja sejumlah sektor usaha utama menjadi penyebab perlambatan ini.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumbar pada 2025 akan melambat pada kisaran 3,33-4,13% (yoy).

Namun, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sumbar akan meningkat pada kisaran 3,77-4,57% (yoy) pada 2026. Upaya pemulihan pasca bencana, peningkatan belanja pemerintah, dan konsumsi masyarakat menjadi pendorongnya.

Sementara itu, transaksi QRIS mencatatkan pertumbuhan signifikan hingga triwulan IV 2025. Peningkatan jumlah merchant dan pengguna menjadi pendukung utama.

Penggunaan kartu debit dan SKNBI mengalami penurunan. Peningkatan penggunaan BI-FAST mengindikasikan pergeseran preferensi masyarakat dalam transaksi digital.

“Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, perputaran uang tunai juga mengalami perlambatan, tercermin dari kontraksi inflow dan outflow,” kata Ikram.

Meskipun demikian, preferensi masyarakat untuk memegang uang tunai masih tinggi.

Pada November 2025, kredit perbankan mengalami kontraksi, meskipun Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami pertumbuhan. Kondisi ini terjadi baik pada sektor korporasi maupun rumah tangga.

Risiko kredit sedikit meningkat, namun tetap terjaga. Rasio NPL berada di bawah ambang batas 5%.