Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memprediksi sektor manufaktur nasional masih mampu bertahan di zona ekspansi pada periode mendatang. Meski demikian, industri manufaktur saat ini menghadapi tantangan berat akibat tingginya kerentanan terhadap tekanan eksternal.
Kinerja manufaktur nasional mengalami perlambatan signifikan pada akhir triwulan pertama 2026. Data S&P Global Ratings mencatat Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia merosot ke level 50,1 pada Maret 2026, turun tajam dibandingkan posisi Februari yang berada di angka 53,8.
Peneliti S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengungkapkan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi pemicu utama penurunan tersebut. Ketegangan geopolitik ini menyebabkan kenaikan harga bahan baku serta gangguan pasokan yang menghambat aktivitas produksi.
Dampak dari kondisi tersebut terlihat dari penurunan volume permintaan baru untuk pertama kalinya dalam delapan bulan terakhir. Akibat barang yang tidak terserap pasar, terjadi penumpukan inventaris pascaproduksi di tingkat perusahaan.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri, Saleh Husin, mengakui bahwa penurunan permintaan dan produksi telah menekan sektor ketenagakerjaan. Sejumlah perusahaan dilaporkan mulai melakukan pengurangan tenaga kerja berskala kecil dalam tiga bulan terakhir sebagai respons atas tekanan operasional.
Saleh memperingatkan bahwa pelemahan volume ekspor berisiko menekan margin keuntungan dan menurunkan utilitas pabrik. Jika kondisi ini berlanjut, sektor padat karya terancam menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala yang lebih luas.
Menurut Saleh, keberlangsungan sektor manufaktur ke depan sangat bergantung pada pemulihan permintaan global dan stabilitas harga energi. Selain itu, efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri menjadi kunci krusial untuk menghadapi gejolak ekonomi global saat ini.
Jakarta – Sektor manufaktur Indonesia menghadapi tantangan berat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang menekan permintaan dan produksi global. Meski Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur nasional tetap berada di zona ekspansi, industri ini dinilai sangat rentan terhadap tekanan eksternal.
Data S&P Global Ratings mencatat PMI manufaktur Indonesia pada Maret 2026 merosot ke level 50,1, turun signifikan dari posisi 53,8 pada Februari. Penurunan ini menandai perlambatan kinerja manufaktur yang cukup tajam pada akhir triwulan pertama.
Peneliti S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengungkapkan bahwa perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi pemicu utama penurunan tersebut. Konflik ini menyebabkan kenaikan harga bahan baku serta kelangkaan pasokan yang menghambat aktivitas produksi.
Dampaknya, volume permintaan baru tercatat turun untuk pertama kalinya dalam delapan bulan terakhir. Kondisi ini memicu penumpukan inventaris pascaproduksi karena barang yang dihasilkan tidak terserap pasar secara optimal.
Tekanan operasional ini mulai merambah ke sektor ketenagakerjaan. Sejumlah perusahaan dilaporkan telah melakukan pengurangan tenaga kerja berskala kecil dalam tiga bulan terakhir.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri, Saleh Husin, memperingatkan bahwa pelemahan volume ekspor berisiko menekan margin keuntungan dan menurunkan utilitas pabrik. Jika kondisi ini berlanjut, pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala yang lebih luas dikhawatirkan dapat terjadi.
Saleh menegaskan bahwa keberlangsungan sektor manufaktur ke depan sangat bergantung pada pemulihan permintaan global serta stabilitas harga energi. Selain itu, ia menekankan pentingnya efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri di tengah gejolak ekonomi global.






