JAKARTA UTARA – Gelombang keprihatinan dan tuntutan pengusutan tuntas mencuat terkait kematian aktivis buruh, Ermanto Usman. Gerakan Utara Bersatu (GUB) mendesak agar kasus ini diinvestigasi secara menyeluruh.
Usman dikenal sebagai sosok yang vokal mengkritisi persoalan buruh dan dugaan penyimpangan kebijakan di lingkungan pelabuhan, khususnya Jakarta International Container Terminal (JICT).
GUB menilai kematian Usman menyisakan banyak kejanggalan.
“Ketika seseorang yang selama ini vokal mengkritik sistem tiba-tiba meninggal secara tragis, tentu publik berhak bertanya,” ujar Juharto, Koordinator Lapangan GUB, dalam keterangannya, Selasa (16/4/2024).
Selain menyoroti kematian Usman, GUB juga mengangkat isu kemacetan dan kecelakaan akibat lalu lintas truk kontainer di Jakarta Utara.
Ribuan truk kontainer melintas setiap hari, menyebabkan kemacetan parah dan meningkatkan risiko kecelakaan bagi masyarakat.
GUB juga menyoroti kerja sama pengelolaan JICT dengan perusahaan asal Hong Kong, Hutchison Port Holdings, yang sebelumnya menuai kontroversi terkait perpanjangan kontrak dan kekhawatiran dominasi asing.
Sebagai bentuk protes, GUB bersama elemen masyarakat berencana menggelar aksi damai.
Aksi ini bertujuan menuntut pengusutan tuntas kematian Ermanto Usman, tanggung jawab atas kemacetan, perlindungan keselamatan masyarakat, dan evaluasi kerja sama pengelolaan pelabuhan.
“Kami tidak akan diam. Ketika aktivis meninggal dan masyarakat terus menjadi korban, maka sudah saatnya publik bersuara,” tegas Juharto.
GUB menegaskan bahwa suara masyarakat tidak boleh diabaikan dan keselamatan warga harus menjadi prioritas utama.






