Jakarta – Ancaman ponsel pintar yang terbakar atau meledak tetap menjadi risiko nyata yang mengintai pengguna perangkat elektronik di tengah ketergantungan tinggi pada teknologi baterai lithium-ion.
Meskipun National Renewable Energy Laboratory (NREL) memastikan baterai jenis ini aman untuk penggunaan harian, potensi bahaya fatal dapat muncul akibat fenomena thermal runaway.
Kondisi peningkatan suhu sel yang tidak terkendali ini memicu reaksi berantai yang mampu merusak integritas fisik perangkat secara total.
Baterai lithium-ion bekerja dengan menyimpan energi padat dalam ruang yang sangat terbatas melalui sistem elektroda dan lapisan pemisah krusial.
Kegagalan pada lapisan pemisah tersebut akan menyebabkan korsleting internal yang memicu lonjakan panas drastis.
Data dari UL Solutions menunjukkan bahwa kerusakan ini sering dipicu oleh benturan fisik, tekanan berlebih, paparan suhu ekstrem, hingga cacat produksi.
Saat fase thermal runaway terjadi, suhu di dalam baterai dapat melonjak tajam hingga melampaui 800 derajat Celsius.
Proses berbahaya ini sekaligus melepaskan gas dari material elektrolit yang bersifat sangat mudah terbakar.
Panas ekstrem yang dihasilkan berisiko merambat ke sel baterai di sekitarnya dan memperluas skala kerusakan perangkat.
Selain kerusakan fisik seperti ponsel yang tertusuk atau tertekan, paparan suhu tinggi secara terus-menerus juga mempercepat reaksi kimia berbahaya di dalam baterai.
Praktik pengisian daya yang melampaui batas desain perangkat turut menjadi pemicu utama overheating dan kerusakan internal permanen.
Cacat manufaktur yang tidak terdeteksi sejak awal sering kali menjadi akar kegagalan sel baterai yang berujung pada ledakan di kemudian hari.






