Surakarta – Kabar baik bagi pasar obligasi! PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) berpotensi memangkas biaya dana obligasi.
Ini setelah obligasi SMF bisa dijadikan underlying repo di Bank Indonesia (BI).
Kepala Divisi Riset Ekonomi SMF, Martin D Siyaranamual, menjelaskan langkah ini akan meningkatkan daya ungkit pendanaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
“Ketika cost of fund dari kami turun dan itu hubungannya dengan FLPP, kami bisa leverage atau ungkit FLPP lebih besar,” ujar Martin.
Martin menambahkan, penerimaan obligasi SMF oleh investor dan pasar akan mengurangi kebutuhan perusahaan untuk memberikan imbal hasil tinggi.
Saat ini, spread imbal hasil obligasi SMF terhadap SBN berada di kisaran 100-150 basis poin (bps).
Dengan fasilitas repo, SMF dapat menawarkan spread yang lebih rendah, misalnya sekitar 80 bps. Penurunan spread ini akan menekan biaya dana perseroan.
Dengan biaya dana yang lebih rendah, SMF dapat meningkatkan porsi pendamping FLPP.
Saat ini, SMF menyediakan 25 persen dana pendamping untuk pembiayaan KPR FLPP. Penurunan biaya dana berpotensi mendorong volume penyaluran KPR subsidi.
Fasilitas repo juga mendorong likuiditas pasar obligasi jangka panjang. Investor yang sebelumnya kurang tertarik pada tenor 10, 15, hingga 20 tahun, kini lebih terbuka karena obligasi SMF dapat direpo ke BI.
“Dengan adanya obligasi SMF dijadikan underlying repo, bank tahu mereka bisa memperoleh likuiditas cepat. Ini membantu menjaga stabilitas likuiditas perbankan dan rasio kecukupan likuiditas,” kata Martin.
BI memiliki sejumlah kriteria bagi surat berharga yang dapat diterima sebagai underlying, antara lain jenis aset likuid berkualitas tinggi (high-quality liquid assets/HQLA).
Direktur Bisnis SMF, Heliantopo, mengatakan akses repo akan meningkatkan minat investor membeli obligasi SMF karena mereka memiliki exit option yang likuid.
Ia mengingatkan, program perumahan nasional sebanyak 3 juta rumah membutuhkan likuiditas besar.
Obligasi SMF yang bisa menjadi underlying repo diharapkan dapat memperlancar perputaran dana dan meningkatkan volume penyaluran KPR FLPP.
Heliantopo menambahkan, saat ini surat berharga yang bisa direpo di BI hanya mencakup obligasi SMF yang konvensional maupun syariah.
Sementara itu, Efek Beragun Aset (EBA) masih terkendala keterbatasan jumlah dan likuiditas. SMF berharap EBA dapat dijadikan underlying repo di masa depan jika likuiditas dan kualitasnya memadai.






