Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mematok target ambisius dalam Sensus Ekonomi (SE) 2026, yakni mencakup seluruh unit aktivitas ekonomi di Indonesia tanpa terkecuali. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa akurasi data dari sektor kesehatan menjadi instrumen vital dalam merumuskan kebijakan pembangunan nasional yang tepat sasaran.
Dalam agenda sosialisasi hibrida bersama Kementerian Kesehatan di Jakarta, Kamis (11/6/2026), Amalia mengibaratkan sensus ini sebagai general check-up bagi perekonomian nasional. Pendataan tersebut dirancang untuk memotret kondisi terkini secara komprehensif, termasuk menangkap pergeseran pola bisnis akibat transformasi digital, seperti layanan konsultasi kesehatan daring dan aplikasi pemesanan obat.
“Sensus ekonomi harus mencakup seluruh aktivitas ekonomi. Target kita adalah 100 persen tercacah secara tepat. Jika masih ada yang belum terdata, maka itu belum bisa disebut sensus,” tegas Amalia di hadapan para direktur rumah sakit dan pelaku usaha kesehatan.
Pelaksanaan pendataan ini merupakan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik yang mewajibkan pemutakhiran data menyeluruh setiap sepuluh tahun. Guna mengakomodasi perkembangan bisnis terkini, BPS telah melakukan pembaruan pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025 yang mencakup kategori usaha baru.
Sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pendataan berskala nasional ini. Amalia memberikan apresiasi atas dukungan strategis Kementerian Kesehatan yang telah memfasilitasi data 89.511 pelaku usaha kesehatan. “Kesuksesan Sensus Ekonomi 2026 hanya dapat diraih melalui kolaborasi. Kami berterima kasih atas dukungan luar biasa dari Kementerian Kesehatan,” ungkapnya.
Menjawab kekhawatiran pelaku usaha terkait keamanan informasi, BPS menjamin kerahasiaan seluruh data individual yang dikumpulkan. Lembaga tersebut berkomitmen hanya akan mempublikasikan data dalam bentuk agregat untuk kepentingan pemetaan ekonomi nasional.
Pemerintah berharap hasil sensus ini mampu memberikan gambaran utuh mengenai kontribusi sektor kesehatan terhadap nilai tambah, investasi, serta penyerapan tenaga kerja. Partisipasi aktif dari seluruh pelaku usaha diharapkan dapat menghasilkan data berkualitas demi mewujudkan pembangunan Indonesia yang lebih berdaya saing.






