EkonomiRanah

Pekerja Migran Kirim Remitansi, Ekonomi Indonesia Terbantu

328
×

Pekerja Migran Kirim Remitansi, Ekonomi Indonesia Terbantu

Sebarkan artikel ini
menteri-p2mi:-remitansi-pekerja-migran-capai-us$-8,4-miliar
Menteri P2MI: Remitansi Pekerja Migran Capai US$ 8,4 Miliar

Jakarta – Pekerja Migran Indonesia (PMI) kembali menunjukkan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Hingga kuartal II 2025, remitansi yang dikirimkan mencapai US$ 8,4 miliar atau setara Rp 136 triliun.

Angka ini diungkapkan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin saat memberikan sambutan dalam acara Edukasi Keuangan bagi Pekerja Migran Indonesia di Jakarta Timur, Senin (10/11/2025).

Pada tahun 2024, total remitansi PMI tercatat sebesar US$ 15,7 miliar atau sekitar Rp 253 triliun.

Mukhtarudin menjelaskan, remitansi PMI pada 2024 menyumbang 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Namun, ia menilai kontribusi ini masih tertinggal dibandingkan Filipina.

“Filipina sudah Rp 600 triliun tahun 2024, 30 persen dari PDB-nya itu adalah dari pekerja migran,” ujarnya.

Menurut Mukhtarudin, tingginya kontribusi remitansi PMI terhadap PDB Filipina disebabkan oleh sistem pendidikan pekerja migran yang terstruktur sejak sekolah dasar.

Pemerintah Indonesia berencana mengadopsi langkah serupa dengan mengintegrasikan edukasi tentang pekerja migran ke dalam kurikulum Sekolah Rakyat.

“Dengan Sekolah Rakyat nanti kita akan insert kurikulum silabus tentang kelas migran, dalam rangka menjawab masalah peningkatan kapasitas pekerja migran Indonesia,” kata Mukhtarudin.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menyebutkan bahwa dari total 3,9 juta pekerja migran pada 2024, rata-rata remitansi yang dikirimkan ke Indonesia mencapai Rp 64 juta per tahun.

Data OJK menunjukkan, 48 persen remitansi dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari, 21 persen untuk investasi, 7 persen untuk tabungan, 5 persen untuk bisnis, dan 9 persen untuk kebutuhan lainnya.

Friderica menambahkan, arus remitansi pekerja yang melebihi Rp 250 triliun per tahun membuka peluang besar bagi industri jasa keuangan nasional.

“Artinya, seluruh pelaku industri, baik perbankan, pegadaian, asuransi, maupun lembaga keuangan mikro, punya tanggung jawab besar untuk meningkatkan literasi dan juga terutama inklusi,” pungkasnya.