Jakarta – Persaingan industri chipset ponsel pintar global memasuki babak baru pada 2026 dengan dominasi teknologi kecerdasan buatan, efisiensi daya, dan performa tinggi.
Data Counterpoint Research per Jumat, 9 Oktober 2026, menempatkan MediaTek sebagai pemimpin pasar smartphone AP-SoC global pada kuartal II 2026 dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 31 persen.
Qualcomm menyusul di posisi kedua dengan perolehan pangsa pasar 23 persen.
Samsung mencatatkan peningkatan performa dengan meraih 9 persen pangsa pasar, naik dari 7 persen pada kuartal sebelumnya.
Qualcomm terus memperkuat segmen premium melalui peluncuran Snapdragon 8 Elite Gen 5.
Chipset ini mengandalkan CPU Qualcomm Oryon generasi ketiga yang mampu mencapai kecepatan hingga 4,74 GHz.
Qualcomm mengklaim, “CPU ini menawarkan peningkatan performa 20 persen dan efisiensi daya 35 persen dibandingkan generasi sebelumnya.”
Peningkatan juga menyentuh sektor grafis melalui GPU Adreno yang kini memiliki efisiensi daya 20 persen lebih baik serta dukungan penuh untuk Unreal Engine 5.
Perusahaan ini juga memperbarui NPU Hexagon untuk mendukung pemrosesan kecerdasan buatan secara langsung di perangkat.
MediaTek merespons kompetisi ini dengan meluncurkan Dimensity 9600 Pro pada September 2026.
Prosesor tersebut diproduksi menggunakan teknologi fabrikasi 2 nanometer dari TSMC.
MediaTek menegaskan fokus mereka pada pengembangan kecerdasan buatan generatif.
Perusahaan menyatakan, “Kemampuan pemrosesan AI generatif di perangkat meningkat 51 persen dibandingkan pendahulunya.”
Strategi MediaTek semakin agresif dengan menyiapkan varian Dimensity 9600M berbasis fabrikasi 3 nanometer untuk menjangkau pasar perangkat kelas atas yang lebih luas.
Evolusi teknologi chipset ini menjadikan prosesor sebagai pusat kendali berbagai fitur pintar dalam aktivitas keseharian pengguna, bukan sekadar komponen aplikasi standar.






