NusantaraPemerintahan

Rahmat Saleh Dukung Pemberdayaan Warga Talu via Potensi Lokal

410
×

Rahmat Saleh Dukung Pemberdayaan Warga Talu via Potensi Lokal

Share this article

Menurutnya, peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci utama.

Rahmat Saleh menerima kunjungan Tuanku Bosa XV di Gedung DPR RI pada 5 Mei 2025. Keduanya membahas pengembangan wilayah Talu melalui pemberdayaan masyarakat dan optimalisasi potensi lokal.

Jakarta – Potensi desa sebagai kekuatan pembangunan kembali ditegaskan dalam pertemuan antara Raja Kabuntaran Talu dan legislator Komisi II DPR RI, Rahmat Saleh, di Gedung DPR RI pada Senin, 5 Mei 2025.

Dalam audiensi tersebut, Tuanku Bosa XV menyampaikan pentingnya strategi pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan wilayah Talu, Kabupaten Pasaman Barat. Ia menilai, potensi sumber daya alam, budaya, serta sektor pertanian dan kehutanan yang ada belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurutnya, peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci utama.

“Kami melihat peluang besar untuk memajukan pertanian modern dan pengelolaan hutan lestari yang bisa memberi nilai tambah bagi masyarakat. Tapi masyarakat perlu didampingi, dibekali pengetahuan, dan diarahkan ke praktik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Selain peningkatan kapasitas, Tuanku Bosa menilai pentingnya penguatan kelembagaan lokal agar masyarakat mampu mengorganisasi diri dan memperjuangkan kepentingan bersama. Ia menyebut pembentukan serta pembinaan kelompok tani dan koperasi desa sebagai langkah strategis.

“Kami percaya, jika masyarakat bersatu dalam kelompok yang kuat dan produktif, maka perubahan nyata bisa dimulai dari bawah,” katanya.

Ia juga menyoroti keterbatasan akses permodalan yang dihadapi pelaku usaha kecil dan mikro di Talu. Menurutnya, dibutuhkan peran perantara antara masyarakat dengan lembaga pembiayaan agar inisiatif usaha yang tumbuh di desa dapat berkembang dan memiliki daya saing.

“Perlu jembatan antara masyarakat dan lembaga permodalan, baik dari pemerintah maupun mitra swasta, agar ide-ide usaha yang tumbuh di desa bisa berkembang dan berdaya saing,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Rahmat Saleh menyatakan dukungannya terhadap inisiatif pemberdayaan yang berangkat dari potensi lokal. Ia menilai pendekatan tersebut tepat dalam membangun desa yang mandiri.

“Pembangunan itu tidak selalu harus dari atas. Ketika masyarakat di tingkat akar sudah bergerak, tugas negara adalah membuka ruang dan memberikan dukungan nyata,” kata Rahmat.

Ia juga menilai pengembangan sektor pariwisata berbasis masyarakat merupakan peluang baru yang menjanjikan bagi daerah seperti Talu. Keindahan alam dan kekayaan budaya, menurutnya, merupakan modal kuat untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai destinasi wisata.

“Kita mendorong agar masyarakat turut aktif dalam pengelolaan homestay, jasa pemandu lokal, serta produksi kerajinan tangan. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga pelestarian identitas dan kebanggaan lokal,” ujarnya.

Meski demikian, Rahmat mengingatkan pentingnya pendekatan berkelanjutan dalam pengembangan pariwisata. Ia menegaskan bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai jika masyarakat memiliki kesadaran menjaga alam.

“Kita ingin pariwisata yang tumbuh tidak merusak, tapi justru menjaga dan menghidupkan kembali tradisi serta ekosistem,” katanya. “Kesadaran lingkungan perlu ditanamkan sejak dini sebagai bagian dari budaya.”

Ia menutup pertemuan dengan menyatakan kesiapannya untuk menjembatani aspirasi Tuanku Bosa kepada kementerian dan lembaga terkait. Ia juga membuka kemungkinan untuk kunjungan langsung ke wilayah Talu guna melihat secara langsung potensi dan kebutuhan yang ada.

“Kami siap menjadi bagian dari proses ini. Ini bukan sekadar wacana, tapi soal masa depan masyarakat yang ingin maju dengan tetap memegang nilai-nilai lokal,” tegas Rahmat.