VIVA – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan data mulai mendapat perhatian lebih besar dalam dunia pendidikan, termasuk untuk membantu siswa memahami persoalan lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya mengajarkan teknologi, tetapi juga mendorong siswa menggabungkan ilmu pengetahuan, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah melalui pembelajaran berbasis STEAM.
STEAM merupakan pendekatan yang menggabungkan Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics. Dalam konteks lingkungan, siswa dapat diajak melihat persoalan di sekitar mereka, mengumpulkan data, menganalisisnya, kemudian merancang solusi dengan bantuan teknologi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporan PISA 2025, dikutip VIVA Kamis, (1/10/2026), menempatkan kemampuan siswa memahami dan merespons persoalan lingkungan sebagai bagian penting dari environmental agency. OECD menyebut kemampuan tersebut terbentuk dari perpaduan pengetahuan, sikap, tindakan, serta kesempatan belajar yang diberikan sekolah.
Data Menjadi Dasar Memahami Masalah Lingkungan
Penggunaan data dapat membuat pembelajaran lingkungan menjadi lebih konkret. Siswa misalnya dapat mengukur konsumsi air di sekolah, mencatat perubahan suhu, menghitung jumlah sampah, atau mengamati kualitas lingkungan di sekitar tempat tinggal.
Data tersebut kemudian dapat dianalisis untuk mencari pola dan menentukan persoalan yang perlu ditangani. Dari sini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami bagaimana angka dan informasi dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
OECD mencatat bahwa kesempatan belajar mengenai lingkungan di kelas berkaitan dengan sikap dan komitmen siswa terhadap perlindungan lingkungan. Siswa yang mendapatkan ruang untuk membahas solusi persoalan lingkungan juga menunjukkan keterlibatan yang berbeda dibandingkan mereka yang lebih sedikit memperoleh kesempatan tersebut.
AI Bisa Menjadi Alat Bantu, Bukan Pengganti Siswa
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
AI kemudian dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses tersebut. Teknologi ini bisa membantu siswa mengolah informasi, mencari pola dari data, menyusun pertanyaan penelitian, atau mengeksplorasi berbagai kemungkinan solusi.
Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan pengawasan dan kemampuan berpikir kritis. OECD dalam Digital Education Outlook 2026 menegaskan bahwa penggunaan AI generatif tidak otomatis menghasilkan pembelajaran. Jika siswa sekadar menyerahkan pekerjaan berpikir kepada chatbot, hasil tugas mungkin meningkat, tetapi kemampuan yang seharusnya dipelajari belum tentu ikut berkembang.
Halaman Selanjutnya
Karena itu, AI lebih tepat ditempatkan sebagai pendamping proses belajar. Siswa tetap perlu memeriksa informasi, memahami data, mempertanyakan hasil AI, serta menentukan sendiri apakah sebuah solusi masuk akal untuk diterapkan.






