Padang – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) bergerak cepat menangani dampak bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah.
Sebanyak 35 unit alat berat dan 940 geobag dikerahkan ke lokasi terdampak.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Provinsi Sumbar, Rifda Suriani, mengatakan tiga unit alat berat terbaru dikerahkan ke Batu Busuak, Kecamatan Pauh, Kota Padang.
Tujuannya mempercepat normalisasi aliran sungai dan penanganan dampak banjir bandang.
Rifda menjelaskan, seluruh alat berat mulai bekerja sejak 25 November 2025, bertepatan dengan penetapan status tanggap darurat bencana tingkat provinsi.
“Sesuai arahan Bapak Gubernur, kami diminta memaksimalkan penanganan di lapangan,” ujar Rifda, Minggu (14/12/2025).
Operasional alat berat saat ini tersebar di lima kabupaten/kota terdampak.
Rinciannya, 22 unit di Kota Padang, dua unit di Kabupaten Padang Pariaman, empat unit di Kabupaten Pesisir Selatan, dua unit di Kabupaten Solok, dan lima unit di Kabupaten Agam.
Bencana hidrometeorologi berdampak signifikan terhadap infrastruktur sumber daya air.
Tercatat, 24 unit bendung irigasi terdampak, serta kerusakan pada bangunan penguatan tebing (seawall) dan jaringan irigasi.
“Total panjang kerusakan akumulatif mencapai 6,9 kilometer untuk seawall dan 3,5 kilometer untuk saluran irigasi,” jelasnya.
Perbaikan sudah dimulai secara bertahap, bersamaan dengan normalisasi sungai dan pengerukan sedimen sisa banjir bandang.
Rifda mengakui proses pemulihan akan membutuhkan waktu cukup panjang dan dukungan anggaran yang besar.
Koordinasi intensif terus dilakukan dengan Balai Wilayah Sungai Kementerian PU serta BUMN Karya.
Tujuannya memperkuat dukungan tenaga dan peralatan di lapangan.
“Hasil koordinasi tersebut cukup efektif. Dua unit alat berat yang saat ini bekerja di Batu Busuak merupakan dukungan dari Hutama Karya Infrastruktur, hasil komunikasi langsung Bapak Gubernur,” tutup Rifda.






