Bukik Ambacang – Gelaran Pacu Kuda Wisata Derby Agam-Bukittinggi Tahun 2026 di Galanggang Bukik Ambacang, Minggu (26/4), berlangsung meriah dan menarik antusiasme tinggi dari masyarakat. Wakil Bupati Agam Muhammad Iqbal SE MCom dan Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias hadir dalam pembukaan ajang tahunan tersebut, yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Bupati Agam.
Sejak pagi, arena pacuan yang dikenal sebagai salah satu gelanggang legendaris di ranah Minangkabau itu sudah dipadati penonton dan peserta. Puluhan joki dari berbagai daerah di Sumatera Barat hingga luar Pulau Sumatra ikut ambil bagian dalam perlombaan tersebut.
Galanggang Bukik Ambacang memiliki nilai sejarah yang kuat karena tradisi pacu kuda di kawasan itu telah hidup jauh sebelum Indonesia merdeka. Hingga kini, pacu kuda tetap bertahan sebagai salah satu olahraga yang digemari masyarakat Minangkabau.
Selain menjadi arena kompetisi, pacu kuda juga terus diminati karena menyajikan hiburan rakyat yang meriah dan terjangkau. Tradisi ini dinilai tetap relevan dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Muhammad Iqbal menegaskan pacu kuda bukan sekadar pertandingan, melainkan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Ia menyebut pacu kuda sebagai permainan tradisional yang telah berkembang menjadi olahraga nasional dengan akar sejarah panjang di tengah masyarakat.
“Tradisi pacu kuda ini merupakan identitas budaya kita yang tidak ternilai. Oleh sebab itu, perlu kita jaga dan lestarikan agar tetap hidup di tengah masyarakat, sekaligus menjadi kebanggaan daerah,” ujarnya.
Iqbal juga menilai kegiatan ini memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pariwisata. Menurut dia, ajang tersebut dapat mempromosikan keunikan budaya dan tradisi lokal kepada wisatawan, sekaligus menghidupkan kembali pariwisata di Sumatera Barat, khususnya di Agam dan Bukittinggi.
Ramlan Nurmatias menjelaskan, pacu kuda wisata derby merupakan agenda tahunan yang telah masuk kalender pariwisata daerah. Tahun ini, sebanyak 80 ekor kuda turun di 19 race yang disusun panitia bersama tim steward.
Panitia juga menyiapkan tiga kategori lomba tanpa biaya pendaftaran atau insert, yakni draf bogie, sagalo, dan pemula. Dari 19 race yang dipertandingkan, delapan di antaranya digratiskan bagi peserta sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan olahraga pacu kuda di daerah.
“Total ada 19 race dengan berbagai kelas, mulai dari kelas tradisional draf bogie hingga puncaknya kelas paling bergengsi, yaitu Derby 1.700 meter yang diikuti tiga kuda terbaik Sumatera Barat,” kata Ramlan.
Melalui penyelenggaraan event ini, panitia dan pemerintah daerah berharap lahir bibit kuda unggul serta joki-joki handal yang mampu berprestasi di tingkat regional maupun nasional. Ajang ini juga diharapkan memperkuat posisi pacu kuda sebagai olahraga tradisional yang terus berkembang di Sumatera Barat, khususnya Agam dan Bukittinggi.






