EkonomiRanah

Indonesia Kejar Rampungkan Negosiasi Tarif dengan AS Bulan Ini

283
×

Indonesia Kejar Rampungkan Negosiasi Tarif dengan AS Bulan Ini

Sebarkan artikel ini
negosiasi-tarif-resiprokal-as-ditargetkan-rampung-bulan-ini
Negosiasi Tarif Resiprokal AS Ditargetkan Rampung Bulan Ini

Jakarta – Pemerintah Indonesia terus berupaya menekan tarif yang dikenakan Amerika Serikat (AS) terhadap produk ekspor. Negosiasi tarif resiprokal dengan AS terus berjalan.

Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Edi Prio Pambudi, menargetkan perundingan ini bisa selesai secepatnya.

“Targetnya secepatnya, makanya kalau bulan ini bisa selesai, kami dorong selesai bulan ini,” ujar Edi di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (14/11/2025).

Saat ini, produk Indonesia dikenakan tarif 19 persen oleh pemerintah AS. Indonesia berupaya agar sejumlah komoditas bisa mendapatkan tarif yang lebih rendah.

Edi menjelaskan, kecepatan negosiasi bergantung pada fleksibilitas AS dalam menampung aspirasi Indonesia. Pemerintah menginginkan perdagangan yang adil dengan AS.

“Indonesia bukan penyebab defisit neraca perdagangan AS,” tegas Edi. Pemerintah berharap kedua negara berada dalam posisi seimbang dalam perundingan.

Dalam perundingan, pemerintah menargetkan tarif 0 persen untuk komoditas yang tidak diproduksi di AS.

Selain itu, tarif lebih rendah dari 19 persen diharapkan untuk produk yang dibutuhkan AS namun sulit tersedia dalam waktu dekat.

“Contohnya pakaian jadi, sepatu, karena selama ini yang dibangun di sana kan lebih kepada industri, lebih di atasnya kan,” jelas Edi.

Indonesia juga melobi AS untuk pengecualian tarif terhadap komoditas ekspor tertentu seperti kakao, kopi, dan kelapa sawit.

Menteri Perdagangan Budi Santoso sebelumnya juga menargetkan negosiasi tarif resiprokal selesai November 2025.

Pemerintah ingin produk Indonesia yang tidak diproduksi di AS bisa memperoleh tarif 0 persen.

“Kami ingin produk-produk kita yang tidak diproduksi oleh Amerika, tetapi diekspor ke sana, mendapatkan tarif 0 persen,” kata Budi.