Jakarta – Target penjualan mobil tahun 2025 direvisi oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menjadi 780 ribu unit.
Angka ini lebih rendah dari target sebelumnya yang dipatok di angka 900 ribu unit.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, membenarkan adanya revisi proyeksi penjualan tersebut.
“Betul, Gaikindo merevisi proyeksi penjualan menjadi 780.000 unit,” ujarnya, Jumat (15/12/2023).
Revisi ini didasarkan pada data penjualan hingga November 2025 yang menunjukkan penurunan 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama tahun 2024, penjualan kendaraan tercatat 865 ribu unit.
Data Gaikindo mencatat total penjualan retail kendaraan roda empat Januari-Oktober 2025 sebesar 660.659 unit.
Sempat meningkat di tiga bulan awal, tren penjualan kemudian menurun pada April dan berfluktuasi.
Pada Oktober, penjualan kembali naik menjadi 74.720 unit dibandingkan bulan sebelumnya yang 63.752 unit.
Toyota memimpin penjualan dengan 209.387 unit, diikuti Daihatsu (112.530 unit), dan Honda (58.720 unit).
Sementara itu, di segmen mobil listrik, merek BYD, Denza, dan AION mencatatkan pertumbuhan penjualan yang signifikan.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, sebelumnya menekankan pentingnya angka penjualan kendaraan sebagai indikator kesehatan industri otomotif.
Febri menilai insentif otomotif krusial untuk memulihkan pasar dan menjaga keberlangsungan industri otomotif nasional.
Insentif diharapkan dapat menurunkan harga kendaraan, memperbaiki sentimen pasar, dan mempertahankan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah dan pembeli mobil pertama.
“Walaupun Kemenperin belum merumuskan jenis, bentuk dan target insentif atau stimulus, tapi usulannya akan mengarah ke segmen kelas menengah-bawah dan didasarkan pada nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN),” pungkasnya.






