Jakarta – Pemerintah mengantisipasi potensi cuaca ekstrem selama periode mudik Lebaran 2026. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memproyeksikan pergerakan masyarakat mencapai 143,9 juta orang.
Kemenhub akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau kondisi cuaca. Hal ini dilakukan demi kelancaran arus mudik dan balik.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan pentingnya sinergi dengan BMKG.
“Berkaitan dengan cuaca ekstrem, kami juga akan berkoordinasi dengan BMKG untuk memastikan pelaksanaan angkutan Lebaran berjalan lancar,” ujar Dudy, Selasa (17/2/2026).
Kemenhub juga mempertimbangkan opsi modifikasi cuaca. Langkah ini akan diambil jika diperlukan untuk memberikan layanan optimal kepada pemudik, khususnya di area penyeberangan.
“Kita akan melihat kondisinya sampai dengan saat pelaksanaan posko Angkutan Lebaran pada 13 Maret,” kata Dudy.
Selain cuaca ekstrem, Kemenhub juga mewaspadai potensi gelombang tinggi di wilayah perairan penyeberangan.
Untuk mengantisipasi kemacetan dan memitigasi risiko kecelakaan, Kemenhub telah mengajukan rekomendasi penambahan personel gabungan.
Proyeksi jumlah pemudik tahun 2026 sedikit lebih rendah dibandingkan survei tahun 2025. Survei tersebut mencatat potensi 146 juta pergerakan, meskipun realisasinya mencapai 154 juta orang.
“Kami berasumsi pada 2026, dengan mempertimbangkan hari libur yang cukup panjang dan penerapan kebijakan flexible working arrangement (FWA), periode pergerakan masyarakat dapat berlangsung kurang lebih selama dua pekan,” pungkas Dudy.






