NusantaraSekitar Kita

Januari, Puncak Bencana di Indonesia

168
×

Januari, Puncak Bencana di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Foto : Istimewa
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Foto : Istimewa
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Foto : Istimewa

Masyarakat Indonesia perlu berhati-hati memasuki bulan Januari 2015. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi, Januari adalah puncak bencana. Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, paling rawan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sesuai pola kejadian bencana di Indonesia, Januari diprediksi sebagai puncak kejadian bencana.

“Sebab lebih dari 90 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi yaitu banjir, longsor, puting beliung, kekeringan, cuaca ekstrem, dan kebakaran hutan lahan. Bencana hidrometeorologi berkorelasi positif dengan pola curah hujan,” kata Sutopo dalam keterangan resminya, Minggu (21/12/2014).

Dia menjelaskan alasannya kenapa Januari adalah puncak bencana. Sebab, sebagian besar wilayah Indonesia puncak hujan terjadi pada Januari.

Selama Desember-Maret, lanjut dia, hujan akan tinggi. Sehingga pada bulan ini banyak banjir, longsor dan puting beliung. Di Indonesia, kata Sutopo, rata-rata kejadian bencana 1.295 kejadian per tahunnya.

“Tiga daerah paling banyak bencana adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur karena memang penduduknya banyak di daerah ini,” katanya.

Dia menjelaskan, bencana hidrometeorologi tidak terjadi tiba-tiba. Tetapi akibat akumulasi dan interaksi dari berbagai faktor, seperti sosial, ekonomi, degradasi lingkungan, urbanisasi, kemiskinan, tata ruang, dan lainnya.

“Misal, banjir yang saat ini menggenangi daerah Dayeuhkolot, Baleendah, dan lainnya di Bandung Selatan. Banjir serupa pernah terjadi sejak tahun 1931 karena wilayah tersebut adalah Cekungan Bandung yang seperti mangkok di DAS Citarum,” jelasnya.

Banjir serupa, kata Sutopo, persis terjadi pada tanggal 19 Februari 2014 di tempat tersebut. Hal yang sama juga terjadi di banjir Bojonegoro, Tuban, Gresik, Cilacap dan sebagainya yang saat ini banjir.

Sutopo mengatakan, bertambahnya penduduk yang akhirnya tinggal di daerah rawan bencana adalah konsekuensi dari lemahnya implementasi tata ruang dan penegakan hukum.

Kawasan industri dibangun pada daerah-daerah rawan bencana. Masyarakat dibiarkan tinggal di daerah rawan banjir dan longsor tanpa ada proteksi yang memadai.

“Banjir dan longsor sebenarnya adalah bencana yang dapat diminimumkan risikonya. Sebab kita sudah tahu kapan, dimana dan apa yang harus dilakukan. Kunci utama itu semua adalah mitigasi struktural dan nonstruktural komprehensif, penataan ruang dan penegakan hukum,” pungkas Sutopo.

(Inilah.com)